ITime.id – 7 November 2025.Tomat leci kini menjadi primadona baru di dunia pertanian hortikultura. Bentuknya yang mungil dan rasanya yang manis segar mirip buah leci membuat banyak petani beralih menanam varietas tomat unik ini. Tak hanya menarik dari sisi rasa dan tampilan, budidaya tomat leci juga terbukti menguntungkan secara ekonomi.
Di sejumlah daerah seperti Malang, Salatiga, dan Bandung, permintaan pasar terhadap tomat leci terus meningkat. Buah berwarna merah cerah dengan rasa manis ini banyak diburu oleh pelaku kuliner dan pasar swalayan modern. Harganya pun relatif tinggi, mencapai Rp25.000–35.000 per kilogram, jauh di atas harga tomat biasa.
Menurut beberapa petani muda yang tergabung dalam komunitas hortikultura Salatiga, budidaya tomat leci tidak membutuhkan lahan luas. Dengan teknik vertikultur atau pot polybag, hasil panennya bisa maksimal. Satu tanaman mampu menghasilkan 2 hingga 3 kilogram buah dalam satu musim tanam.
“Keunggulannya, tomat leci bisa ditanam di dataran menengah, perawatannya ringan, dan cepat panen — hanya sekitar 60 hari setelah tanam,” ujar Budi Santoso, salah satu petani muda asal Argomulyo, Salatiga.
Selain untuk konsumsi segar, tomat leci juga banyak diolah menjadi jus, salad, dan campuran makanan diet karena kandungan vitaminnya yang tinggi serta kadar asamnya lebih rendah dibanding tomat biasa. Hal inilah yang menjadikan komoditas ini bernilai jual tinggi di pasar lokal maupun ekspor.
Dari segi ekonomi, satu petani dengan lahan 500 meter persegi bisa memperoleh keuntungan bersih hingga Rp10 juta per musim tanam, tergantung pada harga pasar dan sistem budidaya yang diterapkan.
Ke depan, tomat leci diprediksi menjadi ikon baru produk hortikultura Indonesia yang potensial dikembangkan oleh petani milenial. Dengan inovasi dan teknik tanam modern, budidaya tomat leci bukan hanya menambah pendapatan, tetapi juga membuka peluang usaha baru di sektor agribisnis.
Reina
