
ITime.id – Yogyakarta. 10 November 2025
Bukan sekadar situs bersejarah peninggalan Keraton Yogyakarta, Taman Sari kini menjadi ruang hidup yang berdenyut di tengah modernisasi kota. Di balik dinding kokohnya yang berlumut, tersimpan kisah manusia, budaya, dan misteri yang masih terasa hingga hari ini.
Bagi wisatawan, Taman Sari adalah destinasi wajib. Namun bagi warga sekitar, tempat ini adalah halaman rumah, ruang bermain anak-anak, sekaligus saksi perjalanan hidup yang tak lekang oleh waktu. Suara langkah kaki wisatawan berpadu dengan denting sendok dari dapur warga yang berjualan gudeg dan kopi di gang-gang sempit, menciptakan harmoni yang jarang ditemukan di situs sejarah lain.
“Dulu tempat ini sepi, tapi sekarang ramai lagi. Banyak yang datang bukan hanya untuk wisata, tapi juga mencari ketenangan,” ujar Mbah Siti (68), warga Kampung Taman yang tinggal tak jauh dari area Sumur Gumuling. Ia mengaku sering melihat “bayangan putih” melintas di malam hari, sesuatu yang diyakininya sebagai penjaga tempat tersebut.
Keindahan arsitektur Taman Sari juga menyimpan teka-teki. Lorong bawah tanah yang konon terhubung langsung dengan Keraton masih menimbulkan tanda tanya. Sebagian pengunjung merasa udara di lorong itu berbeda—lebih lembab, tapi membawa aroma masa lalu yang tak bisa dijelaskan.
Meski sarat sejarah dan cerita mistis, kawasan ini tak berhenti beradaptasi. Generasi muda kini mengubah gang-gang di sekitar Taman Sari menjadi galeri seni dan kafe kecil. Beberapa seniman muda Yogyakarta bahkan menjadikan tembok-tembok tua sebagai kanvas mural bertema “masa lalu yang hidup kembali.”
Taman Sari bukan hanya tentang kolam pemandian raja, melainkan juga kisah tentang manusia yang terus menjaga warisan tanpa kehilangan jati diri. Ia bukan sekadar tempat wisata, tapi napas masa lalu yang masih berdialog dengan masa kini.
“Setiap sudut di sini punya cerita. Kalau mau mendengar, datanglah sore hari, saat matahari mulai turun. Di situ Taman Sari akan berbicara,” tambah Mbah Siti dengan senyum yang samar.
Dan benar, menjelang senja, cahaya keemasan jatuh di antara reruntuhan bangunan, membuat Taman Sari terasa seperti teater alam—tempat sejarah, seni, dan kehidupan berpadu tanpa naskah, tapi tetap memesona.
Reina
