
I Time. Id Subang, Jawa Barat 14 November 2025 .— Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan uji coba bahan bakar inovatif bernama Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos) yang berbahan dasar jerami, pada Selasa (11/11/2025) di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang.
Uji Coba Lapangan
- Dalam uji coba tersebut, Dedi Mulyadi didampingi pendiri Bobibos, M. Ikhlas Thamrin, menyuntikkan bahan bakar hasil olahan jerami ke tangki mesin traktor diesel.
- Traktor berhasil menyala normal dan berjalan mulus, menunjukkan bahwa Bobibos kompatibel dengan mesin diesel pertanian.
- Dalam pengujian, Dedi menyatakan bahwa tarikan mesin terasa lebih ringan dan suara mesin lebih halus.
- Asap knalpot juga dilaporkan lebih bersih dibandingkan dengan bahan bakar diesel konvensional, menandakan potensi pengurangan polusi.
Nilai Teknis Bobibos
- Berdasarkan informasi dari Radar Bogor, Bobibos memiliki angka oktan (RON) 98,1, yang membuatnya setara dengan bahan bakar premium kelas atas.
- Karena berbahan dasar jerami, Bobibos termasuk bahan bakar nabati (BBN) dan digadang-gadang sebagai solusi energi terbarukan yang memanfaatkan limbah pertanian.
Komitmen dan Strategi Produksi
- Dedi Mulyadi menyatakan siap mendukung produksi massal Bobibos di Jawa Barat dan menjalin kerja sama dengan investor.
- Menurut Dedi, produksi awal tidak akan melalui birokrasi pemerintah yang rumit: “pakai lembaga KDM saja” agar lebih cepat dan fleksibel.
- Permodalan awal untuk skala produksi, menurut Dedi, akan ditanggung sebagian olehnya secara pribadi.
- Ia juga menyebut, setelah panen padi dua minggu ke depan, jerami bisa langsung diolah menjadi Bobibos.
Potensi Ekonomi dan Sosial
- Dedi melihat inovasi Bobibos sebagai terobosan kemandirian energi dan pemberdayaan petani, karena jerami yang sebelumnya dianggap limbah bisa bernilai ekonomis tinggi.
- Menurut Mulyadi (pembina Bobibos sekaligus anggota DPR RI), Bobibos bisa membantu mengalihkan sebagian anggaran subsidi BBM negara ke sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan.
- Dari sisi petani, penggunaan jerami sebagai bahan bakar memungkinkan mereka “tersenyum dua kali”: saat panen dan setelah panen karena limbah jerami diolah menjadi komoditas bernilai.
Tinjauan Lingkungan
- Karena mengolah jerami menjadi bahan bakar, Bobibos dapat membantu mengurangi pembakaran jerami di sawah — praktik yang selama ini umum dilakukan petani, dan berkontribusi pada polusi udara pasca panen.
- Inovasi ini juga sejalan dengan upaya pemanfaatan limbah pertanian dan energi terbarukan, mendorong kontribusi pertanian dalam transisi energi hijau.
Tantangan dan Langkah Ke Depan
- Meski uji coba awal menunjukkan hasil positif, produksi massal Bobibos masih harus melewati tahap kerjasama investasi dan pendirian fasilitas produksi skala besar.
- Regulasi terkait bahan bakar nabati seperti Bobibos kemungkinan akan menjadi isu penting ke depan, terutama soal standar lingkungan, izin produksi, dan distribusi.
- Keberhasilan inovasi ini sangat bergantung pada bagaimana jerami petani bisa dikumpulkan, diolah, dan didistribusikan secara efisien agar biaya produksi dan harga bahan bakar menjadi kompetitif.
Uji coba Bobibos oleh Gubernur Dedi Mulyadi di Subang menandai langkah nyata dalam eksplorasi energi terbarukan berbasis pertanian di Indonesia. Jika berhasil direplikasi dan diproduksi secara massal, Bobibos bisa menjadi solusi kembar: mengurangi limbah jerami dan menyediakan bahan bakar lokal berkualitas tinggi. Hal ini tidak hanya berpotensi menguatkan kemandirian energi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani di Jawa Barat.
Reina
