ITime.id — Mataram 15 November 2025.Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dikenal sebagai Gumi Sasak, menyimpan jejak peradaban kuno yang sangat kaya. Berdasarkan catatan sejarah dan temuan arkeologis, jejak kerajaan tertua di wilayah Sasak ini diduga berada di Desa Laek (diperkirakan sekitar Sambelia, Lombok Timur), kemudian berpindah ke kawasan Pamatan (Aikmel) setelah beberapa tahun.

Menurut laporan Metro NTB, situs prasejarah di Gunung Piring, Truwai (Kecamatan Pujut, Lombok Tengah) menjadi salah satu bukti penting. Di sana ditemukan periuk utuh, kereweng, kerangka manusia, sisa kulit kerang, arang, fragmen logam, dan tulang binatang. Temuan ini menunjukkan bahwa penduduk telah menghuni Gumi Sasak jauh sebelum kerajaan-kerajaan Sasak tercatat dalam dokumen sejarah.
Kerajaan-kerajaan awal di Lombok tidak berkembang dalam isolasi. Bukti arkeologis juga menunjukkan bahwa Gumi Sasak pernah dipengaruhi agama Hindu dan Buddha. Salah satu bukti konkret adalah penemuan empat buah arca Buddha dari perunggu pada tahun 1960 di Batu Pandang, Lombok Timur.
Selain itu, banyak catatan menyebut keterkaitan masyarakat Sasak dengan kekuasaan Kerajaan Majapahit. Dalam babad-babad Sasak, tercatat bahwa kerajaan-kerajaan seperti Pamatan, Perigi, dan Selaparang pernah berada di bawah pengaruh Majapahit.
Sejak abad ke-13 Masehi, Gumi Sasak juga menjadi pusat perdagangan penting. Pelabuhan Labuan Lombok ramai dikunjungi pedagang asal Jawa, Palembang, Banten, Gresik, dan Sulawesi. Interaksi ini tidak hanya mendatangkan barang dagangan, tetapi juga ide dan agama. Melalui jalur dagang inilah Islam mulai merambah Lombok ketika para pedagang menetap dan mendirikan komunitas di pesisir.
Salah satu kerajaan yang berperan besar dalam sejarah Gumi Sasak adalah Kerajaan Pejanggik, yang berpusat di Lombok Tengah. Kerajaan ini berdiri sejak tahun 1343 Masehi dan bertahan selama lebih dari tiga abad.
Warisan arkeologis dan histori dari Gumi Sasak menunjukkan bahwa Lombok bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga gudang peradaban lama. Nilai-nilai budaya, kepercayaan, dan struktur kerajaan masa lalu masih bisa dilacak lewat babad, makam, dan masjid tua.
Generasi muda di Lombok diharapkan semakin menghargai warisan ini agar identitas dan akar budaya Gumi Sasak tidak hilang. Kini, upaya pelestarian situs-situs bersejarah dan pendidikan sejarah lokal menjadi semakin penting agar kisah kerajaan-kerajaan kuno Lombok tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat.
Reina
