ITime.id —Manado 15 November 2025. Pelaksanaan Operasi Zebra Samrat 2025 di Sulawesi Utara mendadak ramai gelak tawa setelah Wakapolda Sulut, Brigjen Pol. (nama pejabat dapat disesuaikan), turun langsung memimpin kegiatan dengan gaya yang tak biasa: humanis, santai, dan penuh humor.

Bukan marah-marah atau tegang, Wakapolda justru menyapa pengendara dengan cara yang membuat suasana operasi yang biasanya menakutkan berubah menjadi lebih cair.
Pada satu momen, Wakapolda berhenti di samping seorang pengendara motor yang kedapatan tidak memasang pengait helm dengan benar. Dengan senyum lebar ia berkata:
“Helm-nya sayang dipakai kalau talinya cuma numpang lewat. Mau aman atau mau gaya?”
Pengendara tersebut pun tertawa sebelum mengucapkan terima kasih dan segera memperbaiki helmnya. Cara penyampaian seperti inilah yang membuat suasana operasi terasa berbeda.
Pendekatan Edukatif Lewat Humor
Wakapolda menjelaskan bahwa tujuan utama Operasi Zebra Samrat bukan sekadar memberikan sanksi, tetapi meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keselamatan berkendara. Humor digunakan sebagai jembatan agar pesan mudah diterima tanpa membuat masyarakat merasa terintimidasi.
“Kadang orang lebih cepat paham kalau ditegur dengan cara yang ringan. Yang penting pesannya sampai: keselamatan nomor satu,” ujarnya.
Pendekatan tersebut terbukti efektif. Beberapa pengendara yang diberhentikan terlihat lebih rileks, bahkan ada yang meminta foto bersama Wakapolda setelah selesai diperiksa.
Respons Pengendara: ‘Baru Kali Ini Operasi Bikin Senyum’
Berbagai reaksi positif datang dari pengguna jalan.
Nathasya (22), mahasiswi yang dihentikan karena lampu belakang motornya mati, mengaku awalnya takut, tetapi justru mendapat pengalaman berbeda.
“Kaget, tapi lucu. Saya malah nggak tegang. Dikasih tahu baik-baik. Begini enak, jadi ingat untuk periksa kendaraan sebelum jalan,” katanya.
Sementara itu, seorang pengemudi ojek online mengungkapkan bahwa pendekatan humanis membuatnya tidak merasa dihakimi.
Prioritas Operasi Tahun Ini
Operasi Zebra Samrat 2025 di Sulut menargetkan sejumlah pelanggaran yang berpotensi memicu kecelakaan tinggi, seperti:
- tidak memakai helm SNI,
- berkendara sambil menggunakan ponsel,
- melawan arus,
- membawa kendaraan melebihi kapasitas,
- pengendara di bawah umur.
Selain penindakan, operasi juga dilengkapi edukasi langsung dan pembagian brosur keselamatan.
Tujuan Akhir: Mengurangi Risiko, Bukan Menambah Ketakutan
Wakapolda menegaskan bahwa polisi ingin mendekat kepada masyarakat, bukan membuat mereka menjauh.
“Kami ingin masyarakat sadar bahwa aturan ada untuk melindungi. Kalau pendekatan humanis bisa membuat orang lebih patuh, kenapa tidak?” katanya.
Langkah Wakapolda ini pun mendapat apresiasi dari sejumlah komunitas otomotif dan pemerhati keselamatan berkendara. Mereka menilai inovasi pendekatan humoris bisa menjadi contoh positif bagi daerah lain.
Reina
