
ITime.id – 19 November 2025.Di antara dinginnya udara pegunungan Indonesia, terdapat satu bunga yang sejak lama menjadi simbol keabadian: edelweis. Dikenal juga sebagai bunga abadi, edelweis tumbuh di dataran tinggi vulkanik pada ketinggian sekitar 2.000–3.000 meter di atas permukaan laut. Keindahan dan ketahanannya menjadikannya salah satu flora paling ikonik di Tanah Air.
Berbeda dari bunga pada umumnya, edelweis memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan lama tanpa mengalami perubahan bentuk maupun warna. Struktur bulunya mengandung senyawa khusus yang membuat kelopaknya tidak mudah rontok. Inilah alasan mengapa ia dikenal dengan nama bunga abadi.
Ketika matahari menyinari lereng-lereng gunung seperti Rinjani, Semeru, atau Papandayan, hamparan edelweis yang putih keperakan menciptakan pemandangan yang memukau para pendaki.
Dalam budaya dan mitologi pegunungan Eropa, edelweis sering dikaitkan dengan pengorbanan dan cinta sejati. Di Indonesia, makna itu berkembang menjadi simbol ketulusan, kesetiaan, dan keabadian. Banyak pendaki yang menganggap pertemuan dengan edelweis sebagai momen istimewa, sebuah pengingat bahwa keindahan sejati adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dipetik.
Sayangnya, popularitas edelweis pernah membuatnya hampir punah karena dipetik sembarangan. Namun kini, bunga ini telah ditetapkan sebagai tumbuhan yang dilindungi. Para pendaki diimbau untuk menikmati keindahannya tanpa menyentuh, apalagi membawanya turun.
Balai Taman Nasional di berbagai gunung terus melakukan patroli dan edukasi, memastikan edelweis tetap dapat dinikmati generasi mendatang.
Edelweis bukan sekadar bunga; ia adalah simbol keteguhan hidup di tengah kerasnya alam pegunungan. Tumbuh di tempat yang ekstrem dan sulit dijangkau, edelweis mengajarkan bahwa keindahan sejati lahir dari ketangguhan.
Dengan menatap hamparan edelweis, para pengunjung seakan diingatkan bahwa beberapa hal memang diciptakan untuk tetap berada di tempatnya — abadi, indah, dan penuh makna.
