U Time. Id Salatiga 19 November 2025 .Di Jawa Tengah, sebuah keanehan informasi terjadi. Berita tentang daerah termaju nomor dua di Indonesia tiba-tiba menyeret nama Salatiga, padahal kota itu sama sekali tidak sedang menerima penghargaan tersebut. Sementara itu, daerah yang seharusnya menjadi pusat perhatian—Kabupaten Sukoharjo—justru berada di balik tirai, nyaris tenggelam dalam keramaian narasi yang salah arah.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar:
Mengapa prestasi besar sebuah kabupaten kecil bisa salah disematkan? Dan mengapa Sukoharjo, yang berhasil menyalip daerah metropolitan seperti Semarang dan Solo, justru sepi sorotan?
Untuk menemukan jawabannya, kita harus menyelami ruang yang jarang ditengok: interaksi antara media, psikologi publik, dan wajah administrasi lokal yang tidak suka pamer prestasi.
Bab 1: Narasi yang Melompat dan Nama yang Salah Ditulis
Awalnya kabar itu sederhana: sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah menempati posisi kedua dalam indeks daya saing nasional. Namun beberapa media lokal memilih judul yang bombastis:
“Kalahkan Semarang, Solo, dan Salatiga”
Tiga kota besar disebut—termasuk Salatiga, yang posisinya saat ini memang tinggi dalam indeks pembangunan manusia. Tetapi judul itu membuat efek samping: orang tidak lagi fokus siapa pemenangnya, tetapi siapa yang “dikalahkan”.
Hasilnya?
Sukoharjo yang seharusnya jadi subjek, justru tersisih dari percakapan.
Salatiga yang seharusnya hanya menjadi “obyek perbandingan”, tiba-tiba dianggap pemenang.
Ini problem klasik dalam lanskap media digital:
judul yang sensasional sering lebih diingat daripada isi berita itu sendiri.
Bab 2: Sukoharjo—Kabupaten yang Melesat Tanpa Bunyi
Ketika tim itime.id menelusuri data, kontras langsung terlihat. Sukoharjo adalah kabupaten tenang tanpa riak politik besar:
- Bupatinya terkenal sederhana dan melaporkan harta kekayaan sekitar Rp 8 miliar—jauh dari kesan glamor pejabat kota metropolitan.
- Konflik elite nyaris tidak terdengar.
- Agenda pembangunan berjalan stabil tanpa kegaduhan publik.
Keheningan ini mungkin adalah rahasia utamanya.
Tidak ada turbulensi politik.
Tidak ada kontestasi narasi besar.
Tidak ada drama pemimpin.
Tetapi justru di ruang senyap seperti itulah birokrasi bergerak stabil dan konsisten.
Sukoharjo mengerjakan hal yang sering tak dilirik publik:
memperbaiki layanan, mengejar efisiensi, dan membangun sistem digital.
Di saat banyak kota sibuk membangun pencitraan, Sukoharjo membangun fondasi
.
Bab 3: Ketika Digitalisasi Pemerintah Bukan Lagi Wacana
Jika ada satu hal yang menjadi kunci kecepatan Sukoharjo, itu adalah transformasi digitalnya. Bukan sekadar membuat aplikasi lalu dilupakan—melainkan merombak cara kerja birokrasi di dalam.
Di banyak kabupaten lain, digitalisasi hanya sebatas:
✓ Peluncuran aplikasi
✗ Tanpa integrasi
✗ Tanpa perubahan budaya kerja
✗ Tanpa evaluasi
Sukoharjo tidak memilih jalan mudah itu. Transformasi dilakukan dari hulu ke hilir: data, pelayanan, regulasi, manajemen internal. Akibatnya, skor transformasi digital mereka melesat. Kabupaten kecil ini bahkan mengungguli banyak kota besar yang anggarannya berkali-kali lipat lebih besar.
Lalu mengapa prestasi sebesar ini tidak viral?
Ada jawaban pahit: transformasi birokrasi tidak menarik bagi media arus utama.
Tidak ada foto dramatis.
Tidak ada acara meriah.
Tidak ada headline bombastis.
Hasilnya: prestasi monumental itu hanya bergema di lingkaran pemerintahan, bukan di ruang publik.
Bab 4: “Kota Kecil yang Mengalahkan Kota Besar”—Mengapa Salatiga Mudah Menjadi Sasaran?
Untuk memahami fenomena salah sebut ini, kita harus melihat sisi psikologi publik.
Salatiga memiliki citra yang kuat: kota kecil yang cerdas, tertib, toleran, dan punya kualitas hidup tinggi. Ini membuat publik mudah percaya ketika ada klaim “Salatiga mengalahkan Solo dan Semarang”.
Narasi itu sesuai dengan harapan publik.
Maka publik menerimanya tanpa kritik.
Sukoharjo tidak punya “persepsi bawaan” semacam itu. Ia adalah daerah yang selama ini dianggap biasa saja, teduh, kalem, tidak terlalu muncul dalam percakapan nasional. Karena itu, ketika muncul prestasi besar, publik justru tidak mengasosiasikannya dengan Sukoharjo.
Ironisnya, inilah konsekuensi daerah yang bekerja terlalu sunyi:
prestasi tidak otomatis menjadi identitas publik.
Bab 5: Tantangan Sukoharjo—Kemajuan yang Belum Merata
Namun tidak berarti Sukoharjo sudah mencapai puncak.
Justru yang menarik dari kabupaten ini adalah ketidaksempurnaannya.
- Daya saingnya tinggi
- Administrasinya efisien
- Digitalisasinya progresif
Tetapi kesejahteraan pekerja, dilihat dari UMK, masih rendah dibanding kota tetangga.
Ini menimbulkan pertanyaan kritis:
Bisakah digitalisasi dan peningkatan skor indeks diterjemahkan menjadi kualitas hidup yang meningkat? Atau Sukoharjo akan terjebak dalam paradoks daerah berkembang—modern secara angka, tetapi belum merata secara sosial?
Di sinilah masa depan Sukoharjo dipertaruhkan.
Ketika Sebuah Kabupaten Mengajarkan Indonesia Cara Baru untuk Maju
Kasus salah narasi antara Salatiga dan Sukoharjo bukan sekadar kesalahan informasi. Ia adalah cermin besar tentang cara Indonesia memandang kemajuan.
Kita terbiasa melihat kota besar sebagai pusat kemajuan.
Kita terbiasa bingung ketika kabupaten kecil melesat melewati kota metropolitan.
Kita terbiasa melirik “nama populer”, bukan kinerja sesungguhnya.
Sukoharjo membuktikan bahwa:
- Kemajuan adalah soal konsistensi, bukan sorotan.
- Birokrasi yang tenang bisa bekerja lebih cepat daripada kota yang bising.
- Kabupaten kecil bisa lebih gesit daripada kota besar.
- Transformasi digital bisa lahir dari kantong-kantong daerah yang tak pernah masuk headline nasional.
Dan mungkin, untuk Indonesia yang sedang sibuk mengejar masa depan, negeri ini perlu lebih banyak daerah seperti Sukoharjo—
daerah yang bekerja pelan, tetapi maju jauh.
Reina
