
iTime.id , JawaBarat 20 November 2025 . Gunung Ciremai, yang menjulang setinggi 3.078 mdpl dan menjadi puncak tertinggi di Jawa Barat, terus menjadi magnet bagi para pendaki dari berbagai daerah. Keindahan hutan tropis, jalur menantang, serta udara sejuk di ketinggian membuat gunung ini tak pernah sepi dari aktivitas pendakian, terutama di musim liburan dan akhir pekan.
Namun, bukan hanya pesona alamnya yang menjadi daya tarik. Gunung Ciremai juga lekat dengan kisah mistis serta dipercaya sebagai salah satu lokasi pertapaan sejak zaman kerajaan. Perpaduan antara keindahan, tantangan, dan aura spiritual inilah yang membuat Ciremai selalu menyisakan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjung.
Setiap tahun, jumlah pendaki Gunung Ciremai selalu meningkat. Jalur populer seperti Linggarjati, Palutungan, dan Apuy menawarkan karakter perjalanan yang berbeda-beda—mulai dari jalur curam, medan terjal berbatu, hingga hutan rapat yang memacu adrenalin.
“Ciremai itu lengkap. Ada hutan, tebing, kawah, sampai pemandangan sunrise yang luar biasa,” kata beberapa pendaki yang ditemui pengelola. Banyak pendaki pemula menjadikannya gunung target, sementara para pendaki berpengalaman menganggapnya tantangan tersendiri karena jalurnya yang terkenal menguras tenaga.
Selain tantangan fisik, Gunung Ciremai juga dikenal sarat cerita mistis. Banyak pendaki mengaku merasakan fenomena aneh saat memasuki jalur tertentu, seperti mendengar langkah kaki, suara rombongan yang tak terlihat, hingga kemunculan kabut tebal yang datang tiba-tiba.
Beberapa titik yang sering dikaitkan dengan kisah mistis antara lain:
- Batu Lingga, lokasi yang disebut-sebut sebagai tempat ritual pada masa lalu.
- Pangalap, area hutan yang dipercaya dijaga oleh makhluk tak kasat mata.
- Kawah Ciremai, yang dianggap keramat karena dipercaya sebagai gerbang alam lain menurut cerita warga sekitar.
Meski demikian, pendaki biasanya menganggap kisah-kisah ini sebagai bagian dari tradisi lisan yang menambah warna dalam petualangan mereka.
Gunung Ciremai memiliki jejak sejarah panjang sebagai tempat pertapaan. Beberapa naskah kuno menyebutkan bahwa wilayah sekitar lereng Ciremai digunakan sebagai tempat bertapa para tokoh spiritual, bangsawan, hingga tokoh penyebar agama.
Keheningan kawasan hutan, bebatuan purba, dan sumber mata air alami dipercaya sebagai tempat sempurna untuk meditasi dan pencarian jati diri. Bahkan hingga kini, masih ada beberapa titik yang digunakan masyarakat untuk bersemedi pada waktu-waktu tertentu.
Sebagai kawasan Taman Nasional, Gunung Ciremai menyimpan kekayaan flora dan fauna yang tidak sedikit—dari elang jawa, surili, hingga berbagai tanaman endemik. Namun meningkatnya jumlah pendaki membuat pengelola terus menegaskan pentingnya menjaga kebersihan dan ekosistem.
Pihak taman nasional rutin mengingatkan pendaki untuk menerapkan prinsip zero waste, tidak membawa turun apapun selain jejak, serta menjaga perilaku selama berada di area yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.
Gunung Ciremai bukan sekadar destinasi pendakian. Ia adalah saksi sejarah, ruang spiritual, dan rumah bagi banyak cerita yang diwariskan turun-temurun. Dari jalur curam hingga sunyinya hutan di atas awan, setiap langkah menuju puncaknya selalu menyimpan kesan yang sulit dilupakan.
Bagi mereka yang datang, Ciremai bukan hanya tentang mencapai puncak—tetapi juga perjalanan menemukan sisi lain diri di tengah keindahan dan misteri alam Jawa Barat.
Reina
