
ITime.id – 22 November 2025 .Memasuki musim penghujan yang intens, harga cabai rawit di pasar tradisional mengalami lonjakan signifikan. Kenaikan harga ini dirasakan hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah, membuat pedagang maupun konsumen mulai resah.
Pantauan iTime.id di Pasar Raya Salatiga dan beberapa pasar di Temanggung dan Boyolali menunjukkan harga cabai rawit yang biasanya berkisar Rp35.000 – Rp45.000 per kilogram, kini meroket hingga Rp70.000 – Rp85.000 per kilogram. Lonjakan ini bahkan membuat sebagian konsumen menunda pembelian atau mencari alternatif pengganti cabai.
Petani Terhambat Hujan Deras
Hujan yang turun hampir setiap hari menyebabkan banyak cabai gagal panen. Tanaman rawit yang sensitif terhadap kelembapan tinggi mudah terserang jamur dan busuk batang. Akibatnya, pasokan dari sentra produksi menurun drastis.
“Tanaman banyak yang rontok dan busuk. Kalau hujan terus begini, panen tidak maksimal,” ungkap Agus, petani cabai di Kopeng, Temanggung. Ia menambahkan, medan pertanian yang becek juga menyulitkan proses panen dan distribusi.
Beberapa petani bahkan terpaksa menjual hasil panen lebih murah secara langsung ke pedagang lokal agar tidak mengalami kerugian lebih besar.
Pedagang Mengurangi Pasokan, Harga Makin Melonjak
Akibat suplai menipis, pedagang terpaksa mengurangi jumlah pembelian dari pemasok. Di Pasar Raya Salatiga, salah satu pedagang mengatakan:
“Biasanya kami ambil 10 kilo, sekarang cuma berani ambil 4–5 kilo. Harganya mahal, jadi pelanggan juga mulai keluhkan.”
Tidak hanya itu, beberapa pedagang juga menunda pembelian dengan harapan harga segera turun. Namun, prediksi ini belum terbukti, sehingga harga cabai rawit tetap tinggi hingga saat ini.
Konsumen Cari Alternatif dan Mengurangi Konsumsi
Kenaikan harga membuat konsumen mulai berhemat. Banyak yang memilih cabai merah besar, bubuk cabai, atau mengurangi penggunaan cabai dalam masakan sehari-hari. Beberapa ibu rumah tangga mengaku harus menyesuaikan menu harian agar tetap hemat.
“Dulu 1 kilo cabai cukup untuk seminggu, sekarang harus lebih irit. Kadang pakai cabai merah saja,” kata Siti, warga Salatiga.
Prediksi Harga dan Imbauan Pemerintah
Badan Pangan Daerah memprediksi harga cabai rawit berpotensi stabil jika curah hujan berkurang dan suplai dari petani kembali normal. Namun hingga akhir bulan, harga diperkirakan tetap tinggi.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam berbelanja, serta mendorong petani menggunakan sistem tanam yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, seperti rumah kaca sederhana dan teknik irigasi yang baik.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan suplai cabai tetap lancar meski di tengah musim hujan, sehingga harga bisa lebih terkendali dan masyarakat tidak terlalu terbebani.
Reina

