
ITime .id ,Salatiga 22 November 2025 .— Di kalangan petani, tanaman bandotan atau yang sering disebut wedusan dikenal sebagai salah satu gulma pengganggu tanaman utama. Rumput liar dengan bunga kecil berwarna ungu muda ini tumbuh cepat, mudah menyebar, dan kerap menjadi masalah di lahan pertanian. Namun di balik reputasinya sebagai tanaman pengganggu, masyarakat pedesaan sejak dulu memanfaatkan bandotan sebagai obat tradisional untuk luka ringan.
Bandotan (Ageratum conyzoides) tumbuh liar di banyak daerah tropis, termasuk Indonesia. Petani biasanya mencabutnya karena dianggap menghambat pertumbuhan tanaman pangan. Meski begitu, warga pedesaan memiliki pengetahuan turun-temurun bahwa daun bandotan mengandung sifat antiseptik dan anti-inflamasi alami.
Menurut berbagai catatan etnobotani, daun bandotan mengandung senyawa seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan minyak atsiri. Kandungan inilah yang diduga memberikan manfaat dalam mempercepat penyembuhan luka.
Di desa-desa, warga biasanya menggunakan bandotan dengan cara sederhana:
- Daunnya ditumbuk halus
- Hasil tumbukan ditempelkan pada bagian kulit yang terluka
- Kemudian dibalut menggunakan kain bersih
Cara ini dipercaya dapat membantu menghentikan pendarahan kecil, meredakan bengkak, dan mencegah infeksi ringan.
“Dari dulu kalau anak-anak jatuh dan lecet, kami pakai daun wedusan. Biasanya cepat kering lukanya,” ujar salah satu warga pedesaan di Jawa Tengah.
Sejumlah penelitian tanaman obat menunjukkan bahwa bandotan memang memiliki potensi sebagai antiseptik alami. Beberapa studi mencatat bahwa ekstrak daun bandotan mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi ringan seperti Staphylococcus aureus.
Meski begitu, para ahli tetap mengingatkan bahwa penggunaan bandotan sebaiknya hanya untuk luka ringan, dan bukan untuk luka dalam atau infeksi berat yang harus ditangani tenaga medis.
Meski dianggap gulma oleh petani, kenyataannya bandotan tetap menjadi bagian penting dalam kearifan lokal pengobatan tradisional. Di era modern, pengetahuan alami seperti ini masih relevan, terutama bagi warga pedesaan yang memanfaatkan tanaman sekitar sebagai pertolongan pertama sebelum mendapat perawatan medis.
Tanaman yang dulu hanya dianggap pengganggu ternyata menyimpan manfaat kesehatan yang cukup menjanjikan. Fakta ini membuktikan bahwa banyak gulma liar justru memiliki nilai lebih yang belum sepenuhnya disadari masyarakat luas.
Reina
