
iTime.id – Nasional 24 November 2025 .Kain songket merupakan salah satu mahakarya tekstil tradisional Indonesia yang hingga kini tetap menjadi simbol kemewahan, status sosial, dan warisan budaya. Dengan motif berkilau dan proses pengerjaan yang rumit, songket tidak hanya berfungsi sebagai pakaian adat, tetapi juga menjadi identitas budaya bangsa di berbagai daerah Nusantara.
Akar Sejarah dari Jalur Perdagangan Asia
Sejarah kain songket diperkirakan telah berkembang sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 seiring maraknya perdagangan Asia, terutama antara Indonesia, India, Tiongkok, dan Timur Tengah. Pedagang India membawa teknik tenun ikat emas dan perak yang kemudian berinteraksi dengan budaya lokal. Proses ini melahirkan songket sebagai produk khas Nusantara dengan sentuhan estetika lokal.
Songket berkembang pesat di wilayah-wilayah yang menjadi pusat kekuasaan dan perdagangan, seperti Sumatra, Kalimantan, Bali, dan Sulawesi. Bahan benang emas yang dipakai biasanya berasal dari lempengan logam yang dipipihkan lalu dijadikan serat halus, membuat kain ini identik dengan kemewahan.
Sumatra: Pusat Songket Tertua
Beberapa daerah di Sumatra memiliki tradisi songket tertua dan paling menonjol, antara lain:
- Palembang – dikenal dengan motif rumit seperti “Naga Besaung” dan “Leher Pewareh”, serta penggunaan benang emas yang dominan.
- Minangkabau – songket sering digunakan untuk upacara adat, dengan motif penuh filosofi seperti pucuk rebung, bunga tanjung, dan balapak.
Songket di Sumatra dulunya hanya dikenakan oleh kalangan bangsawan sebagai simbol kehormatan dan kekuasaan.
Songket di Daerah Lain Nusantara
Selain Sumatra, beberapa daerah lain juga memiliki tradisi songket yang kuat:
- Lombok (NTB) – songket Sasak dikenal dengan warna cerah dan motif geometris.
- Bali – songket Bali banyak digunakan dalam upacara adat dan keagamaan.
- Sulawesi Selatan – masyarakat Bugis-Makassar memadukan benang sutra dengan serat emas, menghasilkan tekstur yang lebih lembut dan berkilau.
Perbedaan motif mencerminkan nilai budaya, status sosial, dan ritual daerah masing-masing.
Proses Pembuatan yang Rumit
Pembuatan kain songket dapat memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Pengrajin menenun benang emas atau perak di atas kain dasar menggunakan teknik supplementary weft. Tingginya tingkat kerumitan menjadi alasan mengapa songket memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Eksistensi Songket di Era Modern
Meski dunia mode terus berubah, songket tetap relevan. Banyak desainer muda memodifikasi songket dalam bentuk busana modern seperti outer, gaun, dan aksesori. Pemerintah juga memasukkan songket sebagai salah satu warisan budaya tak benda yang perlu dilestarikan.
Di berbagai daerah, generasi muda kini dilibatkan dalam pelatihan menenun untuk menjaga keberlangsungan tradisi. Upaya ini menjadikan songket tidak hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sumber ekonomi kreatif yang menjanjikan.
Warisan yang Tetap Hidup
Kain songket adalah bukti bahwa warisan leluhur mampu melewati batas zaman. Kilau benang emasnya tidak hanya memancarkan keindahan, tetapi juga perjalanan sejarah panjang masyarakat Nusantara.
Reina

