ITime.id — nasional 25 November 2025 Selama ini lumut kerap dianggap hanya sebagai tanaman liar yang tumbuh di tempat lembap, seperti bebatuan, batang pohon, atau tembok yang jarang terkena sinar matahari. Namun, di balik bentuknya yang sederhana, lumut (Bryophyta) ternyata menyimpan potensi besar dalam dunia medis modern.

Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa berbagai spesies lumut mengandung senyawa bioaktif seperti fenolik, flavonoid, terpenoid, dan alkaloid. Senyawa-senyawa ini diketahui memiliki sifat antibakteri, antijamur, antioksidan, hingga antikanker.
Misalnya, beberapa genus seperti Sphagnum dan Marchantia ditemukan memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri tertentu, bahkan bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Hal ini membuka peluang bagi pengembangan obat-obatan baru berbasis tanaman mikroskopis tersebut.
Di beberapa negara Asia, lumut telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Ekstrak lumut kerap dimanfaatkan untuk:
- Mengobati luka ringan dan infeksi kulit
- Meredakan peradangan
- Menstabilkan suhu tubuh dalam perawatan herbal
Meskipun begitu, bukti ilmiah mengenai efektivitasnya masih terus diteliti untuk memastikan keamanan serta dosis yang tepat.
Selain senyawa kimia di dalamnya, lumut juga berperan dalam inovasi material medis. Salah satu yang paling menarik adalah lumut gambut (Sphagnum moss) yang dapat menyerap cairan hingga 20 kali lipat beratnya sendiri. Kemampuan ini membuatnya pernah digunakan sebagai perban alami sejak era Perang Dunia I.
Saat ini, para ilmuwan tengah mengeksplorasi lumut sebagai:
- Bahan dasar pembalut luka alami dengan sifat antibakteri
- Sumber antibiotik baru untuk melawan bakteri super
- Bahan biomaterial dalam produksi gel atau film untuk keperluan medis
- Model penelitian untuk memahami pertahanan tanaman terhadap patogen
Jika penelitian ini berhasil, lumut dapat menjadi alternatif baru dalam teknologi medis yang lebih ramah lingkungan.
Meskipun potensinya besar, pemanfaatan lumut dalam dunia medis masih menghadapi beberapa tantangan:
- Ukuran yang kecil dan pertumbuhan lambat membuat produksi massal sulit dilakukan.
- Keanekaragaman spesies yang tinggi memerlukan proses identifikasi dan studi yang panjang.
- Kurangnya penelitian klinis membuat aplikasi medis berbasis lumut belum dapat digunakan secara luas.
Meski begitu, para peneliti optimistis bahwa lumut dapat menjadi sumber inovasi baru di era bioteknologi.
Lumut, yang selama ini hanya dianggap sebagai tanaman liar, ternyata menyimpan potensi besar untuk menjadi bagian dari pengobatan modern. Dengan penelitian yang terus berkembang, bukan tidak mungkin lumut akan menjadi salah satu bahan utama dalam perawatan medis masa depan—mulai dari obat antibakteri hingga material penyembuh luka generasi baru.
Reina

