ITime.id –Banda Aceh 25 November 2025 Aceh tak hanya dikenal kaya akan budaya dan sejarah, tetapi juga memiliki kekayaan botani berupa buah-buahan lokal yang langka dan unik. Beberapa jenis buah yang dulu kerap dikonsumsi kini semakin sulit dijangkau dan membutuhkan upaya pelestarian yang lebih serius. Berikut ulasan beberapa buah langka Aceh dan kondisi terkini mereka:

1. Boh Meuria (Buah Rumbia / Salak Aceh)
Buah rumbia atau dalam bahasa Aceh disebut boh meuria adalah buah yang berasal dari pohon sagu (Metroxylon sagu) dan semakin langka di pasaran.
- Di Aceh Barat, terutama di Desa Peuribu, pohon sagu masih tumbuh, namun jumlah buah yang matang dan bisa dikonsumsi semakin berkurang.
- Buah ini memiliki rasa khas — agak kelat — sehingga dulu kerap diasinkan menjadi asinan rumbia, yang menjadi oleh-oleh khas Aceh Barat.
- Selain untuk konsumsi segar atau asinan, boh meuria pernah menjadi “buah tangan” para pelancong Aceh.
2. Keranji (Asam Keranji)
Di Lhoknga, Aceh Besar, tumbuh buah langka bernama keranji atau asam keranji (velvet tamarind).
- Buah ini berukuran seperti anggur, dengan daging lembut ala beludru yang membungkus biji kecil.
- Rasanya manis-asam dan teksturnya padat. Banyak wisatawan singgah ke jalan Banda Aceh–Lhoknga hanya untuk mencicipinya.
- Namun, pohonnya bisa sangat tinggi (hingga 35 meter), sehingga petik buah keranji cukup sulit.
- Karena ketersediaannya terbatas, keranji menjadi buah langka sekaligus ikon lokal di wilayah hutan Aceh.
3. Jeruk Keprok Gayo
Jeruk Keprok Gayo merupakan varietas jeruk unggulan dari Dataran Tinggi Gayo, yang dulu populer di pasaran.
- Kini jeruk ini semakin sulit dijumpai karena banyak petani sudah berhenti menanamnya.
- Salah satu penyebabnya adalah serangan penyakit “busuk pangkal batang” yang menyerang pohon keprok Gayo sejak lama.
- Jeruk Keprok Gayo sendiri sudah diakui sebagai buah unggulan nasional dan juga memiliki sertifikat Indikasi Geografis (IG).
- Ada upaya agar petani di Gayo kembali membudidayakan jeruk ini sebagai bagian dari pelestarian warisan hortikultura lokal.
4. Buah Jernang
Buah jernang Aceh adalah buah langka yang sempat menarik perhatian investor asing.
- Menurut laporan, perusahaan asal China tertarik untuk memburu jernang Aceh karena kulit buahnya berguna sebagai bahan obat herbal.
- Karena permintaan bahan baku tinggi, ada kekhawatiran soal eksploitasi tanpa pengelolaan berkelanjutan.
- Jernang menambah daftar buah langka Aceh yang tidak hanya bernilai lokal tetapi juga berpotensi ekonomi global.
5. Buah Lokal Lainnya di Ekosistem Leuser
Menurut penelitian di Kabupaten Aceh Tamiang (ekosistem Leuser), terdapat banyak buah lokal yang belum banyak dibudidayakan padahal potensinya besar.
- Dari 55 jenis tanaman buah lokal yang ditemukan, 9 di antaranya memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti mancang, kuweni, asam gelugur, durian merah, sentul, cempedak air, murberi gunung, jambu keling, dan tampoi.
- Namun, sebagian besar buah ini hanya dikonsumsi lokal (fresh fruit) dan belum diolah atau dipasarkan secara luas.
- Perlindungan dan pembudidayaan varietas lokal ini dianggap penting agar sebagai sumber potensi pangan dan ekonomi, serta untuk menjaga keanekaragaman hayati lokal.
Pemerintah Aceh, bersama dinas pertanian dan kelompok tani, telah mulai mengangkat isu buah langka ini dalam pameran dan program agro.
- Salah satu upaya adalah melalui Aceh Agro Expo, di mana komoditas buah langka (seperti rumbia, jernang, pamelo, dan lainnya) dipamerkan untuk menarik minat budidaya dan konsumsi lokal.
- Di Kabupaten Aceh Tamiang, misalnya, dinas pertanian menargetkan setiap BPP di kecamatan memiliki tanaman buah langka sebagai ikon lokal.
- Pemerintah lokal juga mendorong penangkaran bibit unggul dari pohon-pohon langka agar bisa diregenerasi kembali.
Namun, pelestarian menghadapi tantangan:
- Populasi pohon yang menurun — banyak pohon buah langka yang kini jarang berbuah atau bahkan cuma tersisa sedikit. Contoh: pohon sagu di Aceh Barat Daya yang sempat tidak berbuah lagi setelah tsunami.
- Budaya konsumsi dan penanaman yang menurun — sebagian petani sudah beralih ke tanaman komoditas lain yang lebih menguntungkan atau mudah dipasarkan.
- Eksploitasi komersial — permintaan untuk bahan baku (seperti jernang) dari luar daerah bisa menyebabkan panen berlebihan jika tanpa manajemen berkelanjutan.
- Keterbatasan penelitian dan pendataan — meskipun ada studi tentang buah lokal, tidak semua varietas langka telah dikaji potensi ekonomi, biologi, atau cara budidayanya secara mendalam.
- Nilai gizi & kesehatan: Buah lokal sering kaya vitamin, antioksidan, dan senyawa bermanfaat — potensi untuk dikembangkan jadi produk kesehatan atau pangan fungsional.
- Keanekaragaman hayati: Menjaga varietas buah lokal membantu pelestarian genetika tanaman yang mungkin adaptif terhadap kondisi lokal (iklim, tanah, hama).
- Nilai budaya: Buah-buahan khas adalah bagian warisan lokal, identitas masyarakat Aceh, maupun tradisi kuliner khas.
- Potensi ekonomi: Dengan budidaya dan pemasaran yang tepat, buah langka bisa jadi komoditas unggulan lokal yang memberi nilai tambah bagi petani lokal.
Buah-buahan langka di Aceh seperti boh meuria, keranji, jeruk Keprok Gayo, jernang, dan banyak buah lokal lainnya adalah kekayaan alam yang sangat berharga. Namun, tanpa upaya pelestarian aktif, risiko hilangnya jenis-jenis ini semakin besar. Melalui kolaborasi antara pemerintah, ilmuwan, petani, dan komunitas lokal, Aceh bisa menjaga warisan buah langka sekaligus membuka potensi ekonomi baru.
Reina

