
ITime.id – yogyakarta 25November 2025 Nama “Yogyakarta” yang kini dikenal masyarakat ternyata memiliki sejarah panjang yang berakar dari sebutan asli “Ngayogyakarto”. Perubahan penyebutan itu tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses sejarah yang dipengaruhi dinamika politik Jawa, kolonialisme, dan perkembangan administrasi pemerintahan sejak abad ke-18.
Nama “Ngayogyakarta Hadiningrat” resmi lahir pada 17 Februari 1755 melalui Perjanjian Giyanti, yang membagi Kesultanan Mataram menjadi dua wilayah:
- Kasunanan Surakarta, dan
- Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah kepemimpinan Hamengkubuwono I.
Kata “Ngayogyakarto” atau “Ngayogyakarta” berasal dari akar kata Yogya (baik/pantas) dan Karta/Karto (makmur/tentram). Penambahan awalan “Nge-” adalah ciri linguistik Jawa untuk menegaskan proses atau penciptaan. Sementara Hadiningrat berarti kemuliaan dunia.
Dengan demikian, nama itu merepresentasikan ambisi politik dan spiritual Sultan HB I untuk mendirikan pusat kerajaan baru yang harmonis, makmur, dan bermartabat, melanjutkan tradisi Mataram Islam.
Ketika pemerintah kolonial Belanda mulai mengelola administrasi Jawa secara lebih sistematis pada abad ke-19, nama “Ngayogyakarto” dirasa terlalu panjang serta sulit dieja oleh para pejabat Belanda.
Akhirnya, muncul bentuk ejaan baru:
- Jogjakarta, dalam dokumen dan arsip kolonial,
- kemudian menjadi Djokjakarta pada masa ejaan van Ophuijsen (awal abad ke-20).
Penyingkatan itu tidak mengubah makna wilayahnya, tetapi hanya bentuk penulisan agar sesuai dengan kebutuhan birokrasi kolonial.
Setelah kemerdekaan Indonesia dan diterapkannya Ejaan Republik (1947) yang kemudian berkembang menjadi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), nama “Djokjakarta” disesuaikan menjadi “Yogyakarta”, mengikuti kaidah penulisan huruf Latin modern.
Meski demikian, Kraton tetap mempertahankan nama historis “Ngayogyakarta Hadiningrat” sebagai identitas resmi kerajaan yang masih berdiri hingga kini.
Perubahan penulisan tidak menghapus nilai filosofis yang terkandung di dalam nama aslinya. Ngayogyakarto dibangun dengan konsep kosmologi Jawa:
- Hamemayu Hayuning Bawana – menjaga keindahan dunia,
- Garis Imajiner Merapi–Kraton–Parangkusumo sebagai simbol keseimbangan kosmos,
- Catur Gatra Tunggal yang memadukan kraton, alun-alun, masjid, dan pasar.
Konsep itu menjadi pondasi yang membuat Yogyakarta hingga kini dikenal sebagai kota budaya dan kota yang menjunjung harmoni.
Kini, “Yogyakarta” menjadi penyebutan administratif yang digunakan dalam pemerintahan modern. Namun bagi masyarakat setempat dan Kraton, nama “Ngayogyakarto” tetap menjadi simbol jati diri sejarah panjang kerajaan Mataram yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Reina

