
ITime.id –Jakarta 25 November 2025 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menghadapi gelombang kontroversi setelah keputusan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Ahyar, mencabut penunjukan penasihat khusus Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya. Surat keputusan bernomor 4780/pb.23/A.II.10.71/99/11/2025 mencantumkan pembatalan tanda tangan dalam perintah penunjukan penasihat khusus bidang internasional atas nama Gus Yahya.
Keputusan ini diambil dalam Rapat Harian Syuriah PBNU yang digelar pada 20 November 2025 di Jakarta, dan ditandatangani oleh Rais Aam KH Miftachul Ahyar. Dalam risalah rapat tersebut, sejumlah ulama Syuriah menilai beberapa kebijakan yang dilayangkan oleh pengurus di bawah kepemimpinan Gus Yahya telah menyalahi nilai dasar Nahdlatul Ulama.
Salah satu isu sentral adalah kontroversi undangan tokoh akademis yang dianggap pro-Zionis dalam kegiatan kepemimpinan nasional NU. Menurut risalah, langkah ini dinilai melanggar “nilai dan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyah” dan bertentangan dengan dasar-dasar Qanun Asasi NU.
Menanggapi keputusan tersebut, Gus Yahya mengklaim bahwa dia sudah bertemu dengan jajaran Syuriah PBNU. Dalam pertemuan itu, menurut dia, para kiai menyatakan penyesalan atas tindakan mereka sebelumnya karena “tidak mendapatkan informasi yang utuh dari awal.”
Gus Yahya mengatakan bahwa pertemuan lebih lanjut dengan kiai-kiai sepuh akan digelar “agar ada suara moral yang dapat mendorong ke arah jalan keluar yang maslahat (kebaikan bersama).”
Sementara itu, dalam rapat ulama PBNU terbaru, disepakati bahwa tidak akan ada pemakzulan terhadap Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU. Katib Aam PBNU, Ahmad Said Asrori, menyatakan bahwa kepengurusan PBNU saat ini akan berlanjut hingga akhir masa jabatan yang ditetapkan Muktamar.
- Kelahiran dan Keluarga
KH Yahya Cholil Staquf lahir pada 16 Februari 1966 di Rembang, Jawa Tengah. Dia berasal dari keluarga pesantren: putra KH M. Cholil Bisri dan keponakan dari K.H. A. Mustofa Bisri. - Pendidikan
Mengenyam pendidikan pesantren di Raudlatut Tholibin (Rembang) dan Pesantren Krapyak (Yogyakarta), kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM). - Karier di NU
Pernah menjabat sebagai Katib ‘Aam PBNU periode 2015–2021. Pada Muktamar ke-34, terpilih sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode 2021–2026. - Peran Politik dan Diplomasi
Gus Yahya pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain itu, ia sempat menjabat di Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). - Visi Internasional
Dia dikenal aktif dalam forum internasional dan mendorong gagasan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam
Langkah mencopot Gus Yahya sebagai penasihat khusus menandai eskalasi ketegangan internal di tubuh NU. Bagi sebagian pihak, ini menjadi sinyal bahwa ada perbedaan pandangan mendasar terkait arah organisasi, terutama dalam soal diplomasi dan hubungan internasional. Namun, kesepakatan ulama bahwa tidak akan ada pemakzulan menunjukkan bahwa isu ini belum mengarah ke perpecahan struktural yang fatal bagi kepengurusan PBNU saat ini.
Reina

