
ITime.id —Jakarta 25 November 2925 . Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, mengkritisi tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai meski negara dikenal luas sebagai pengonsumsi tahu dan tempe.
Dalam rapat kerja dengan Kementerian Pertanian (Kementan) di Gedung DPR, Senin (24/11/2025), Titiek menyampaikan data bahwa kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,9 juta ton per tahun, tetapi produksi dalam negeri baru berkisar antara 300 ribu hingga 400 ribu ton. Sisanya, sebesar 2,6 juta ton, harus dipenuhi melalui impor.
“Kita bangsa pemakan tahu tempe, mestinya kedelai jadi prioritas,” ujar Titiek dalam rapat tersebut.
Ia menambahkan, “Impor kita 2,6 juta ton, banyak sekali. Kalau dirupiahin berapa tuh? Banyak sekali, triliunan ya pak.”
Titiek tidak hanya mengkritik, tetapi juga mendorong agar komoditas kedelai menjadi salah satu prioritas nasional. Menurut dia, pencapaian swasembada beras dan jagung oleh Kementan layak dipuji, tetapi upaya serupa harus dilakukan untuk kedelai.
Ia mengusulkan agar kembali diaktifkan program PAJALE — yakni program peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai — yang menurutnya dapat mengurangi impor kedelai secara signifikan.
Kritik Titiek sangat relevan mengingat tempe dan tahu adalah bagian penting dari pola konsumsi masyarakat Indonesia. Ia menekankan, ketergantungan pada kedelai impor tidak hanya berisiko dari sisi ekonomi (arus devisa) tetapi juga keberlanjutan rantai pasok bahan baku lokal.
Menurut laporan-laporan agribisnis, sebagian besar kedelai impor digunakan untuk industri tempe dan tahu.
Produksi kedelai domestik yang rendah disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk minat petani yang bergeser ke komoditas lain, kurangnya riset benih kedelai unggul, dan keterbatasan lahan.
Selain itu, menurut data, sebagian besar impor kedelai Indonesia berasal dari Amerika Serikat.
- Ekonomi Nasional: Impor kedelai dalam jumlah besar menyedot devisa dan membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global.
- Ketahanan Pangan: Menjadikan kedelai sebagai komoditas strategis bisa memperkuat kemandirian pangan, khususnya bahan baku tahu-tempe.
- Petani Lokal: Dorongan untuk meningkatkan produksi kedelai lokal bisa memberi insentif bagi petani, sekaligus menghidupkan program Pajale kembali.
- Riset dan Inovasi: Pemerintah perlu mengintensifkan penelitian benih kedelai unggul dan teknologi produksi agar produktivitas petani meningkat.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan publik terbaru dari Kementerian Pertanian (Mentan) menanggapi secara rinci usulan Titiek. Namun, sebelumnya disebutkan bahwa Kementan telah menyiapkan rencana untuk memperluas program tanam kedelai jika anggaran memungkinkan.
Pernyataan Titiek Soeharto membuka kembali diskusi krusial mengenai ketergantungan Indonesia pada kedelai impor. Dengan kebutuhan tahu dan tempe yang sangat tinggi di masyarakat, argumennya bahwa swasembada kedelai harus menjadi prioritas nasional mendapat dukungan banyak pihak. Kini, tantangan terbesarnya adalah bagaimana menerjemahkan dorongan politik tersebut ke dalam kebijakan konkret dan program pertanian yang berkelanjutan.
Reina

