ITime.id – Yogyakarta. 27 November 2025
Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) secara resmi menyatakan keluar dari struktur kemahasiswaan atau keluarga mahasiswa yang selama ini menaungi relasi antarkelembagaan mahasiswa lintas kampus. Keputusan mengejutkan ini disampaikan dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui kanal komunikasi BEM KM UGM.
Langkah tersebut memicu perhatian publik, terutama karena UGM dikenal sebagai salah satu pusat gerakan mahasiswa terbesar di Indonesia.
Dalam pernyataannya, BEM KM UGM menegaskan bahwa keputusan keluar dipicu oleh kondisi forum kemahasiswaan yang dinilai tidak lagi steril dari kepentingan politik praktis. Mereka menyebut bahwa pada kegiatan musyawarah nasional mahasiswa terakhir, hadir sejumlah pejabat negara, aparat keamanan, hingga figur politik tertentu.
BEM KM UGM menilai situasi ini “menghilangkan independensi suara mahasiswa”, karena forum yang seharusnya menjadi ruang kritik justru didatangi aktor-aktor yang rentan memengaruhi arah gerakan.
Lebih jauh, BEM KM UGM menilai forum yang selama ini diikuti justru semakin menjauh dari cita-cita gerakan mahasiswa. Dalam rilis mereka, disebutkan bahwa dinamika sidang cenderung terfokus pada perebutan posisi struktural daripada pembahasan isu-isu strategis seperti demokrasi, korupsi, hingga kebijakan pendidikan.
Mereka menggambarkan forum tersebut sebagai ruang yang “berisik, penuh intrik, dan kehilangan substansi—bukan lagi tempat perjuangan intelektual mahasiswa.”
Dalam laporan mereka, BEM KM UGM juga menyebut adanya insiden kericuhan fisik yang terjadi pada pertemuan mahasiswa nasional. Beberapa peserta dikabarkan mengalami luka dan trauma psikologis akibat benturan antarkelompok. Kondisi ini dinilai mencoreng citra mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang semestinya mengedepankan dialog dan nalar kritis.
“Gerakan mahasiswa tidak boleh berubah menjadi adu fisik maupun adu kuasa. Itu bukan wajah kemahasiswaan yang kami perjuangkan,” tulis BEM UGM dalam keterangannya.
BEM KM UGM menegaskan bahwa mereka tidak memiliki ambisi jabatan dalam struktur pusat manapun. Sejak awal, keikutsertaan mereka dalam aliansi mahasiswa hanya bertujuan memperluas ruang gerakan. Namun, ketika forum dianggap tidak lagi sehat dan kehilangan orientasi, mereka memilih menarik diri.
Mereka menutup pernyataan dengan tegas:
“UGM tidak untuk dijual. Independensi adalah harga mati.”
Terkait keluarnya BEM KM UGM, sejumlah organisasi mahasiswa nasional menyampaikan bahwa keluar-masuk anggota adalah hal yang biasa. Mereka menghormati keputusan UGM dan menganggapnya sebagai pilihan strategis sesuai dinamika internal kampus masing-masing.
Namun, keputusan ini juga memicu diskusi luas di media sosial dan komunitas kampus. Banyak yang menilai langkah ini sebagai bentuk komitmen moral BEM UGM untuk menjaga idealisme mahasiswa di tengah semakin kaburnya batas antara organisasi mahasiswa dan kepentingan politik nasional.
Keluar dari kemahasiswaan membuat BEM KM UGM kini akan bergerak secara independen tanpa terikat struktur aliansi mahasiswa nasional. Pengamat menyebut langkah ini dapat membentuk pola baru gerakan mahasiswa yang lebih otonom, kuat secara gagasan, dan tidak terseret dalam konflik perebutan jabatan.
Reina

