ITime.id –Nasional 27 November 2025 Di tengah gempuran inovasi pangan dan diversifikasi beras lokal, masyarakat kembali dikejutkan dengan kemunculan beras hijau bambu—sejenis biji yang dihasilkan dari bunga bambu dan hanya dapat dipanen sekali dalam setahun, bahkan pada beberapa jenis bambu bisa mencapai siklus belasan hingga puluhan tahun. Kelangkaan inilah yang membuat komoditas ini menjadi perhatian baru pecinta pangan organik dan pengamat botani.
Fenomena bambu berbunga dikenal sebagai salah satu kejadian botanis paling jarang. Banyak jenis bambu hanya berbunga dalam kurun waktu yang tidak menentu—mulai dari setahun sekali hingga 30–60 tahun sekali. Ketika masa berbunga tiba, tanaman bambu menghasilkan bulir kecil berwarna hijau gelap yang oleh masyarakat lokal disebut beras hijau bambu.
Biji ini memiliki ukuran lebih kecil dari beras padi, namun bentuknya lebih padat dan bertekstur kenyal. Karena panennya mengikuti siklus alam, masyarakat tidak dapat membudidayakan secara massal, sehingga setiap hasil panen menjadi sangat terbatas.
Mereka yang pernah mencicipi menggambarkan beras hijau bambu memiliki karakteristik rasa yang tidak ditemukan pada beras jenis lain:
- Aroma wangi alami, menyerupai wangi bambu muda
- Rasa gurih ringan tanpa tambahan bumbu
- Tekstur lebih kenyal, mirip ketan halus
- Sentuhan rasa manis tipis yang hadir setelah dimasak
Keunikan ini membuat beras hijau bambu sering dijadikan bahan olahan tradisional, seperti bubur herbal, nasi gurih, dan campuran jamu penghangat tubuh.
Meski belum banyak penelitian resmi, masyarakat adat percaya beras hijau bambu memiliki beberapa manfaat alami, antara lain:
- Meningkatkan stamina, terutama saat dikonsumsi sebagai bubur hangat
- Menenangkan tubuh, berkat aromanya yang alami
- Menghangatkan perut, karena kandungan serat dan minyak alami dari bunga bambu
- Menyehatkan pencernaan, mengingat bentuknya yang mirip serealia hutan
Para peneliti botani menyebut biji ini memiliki potensi menjadi sumber pangan alternatif karena kandungan karbohidrat dan proteinnya relatif tinggi.
Karena panen hanya terjadi setahun sekali, jumlah biji cukup sedikit, dan proses pengumpulan dilakukan secara manual di hutan bambu, harga beras hijau bambu di pasaran bisa melambung tinggi. Di beberapa daerah Jawa dan Kalimantan, harga jualnya bisa mencapai dua hingga lima kali lipat dibandingkan beras premium.
Banyak pemerhati lingkungan menilai beras hijau bambu merupakan kekayaan hayati yang perlu dijaga. Selain unik, fenomena ini menjadi penanda penting kestabilan ekosistem hutan bambu. Upaya konservasi pun mulai digaungkan oleh beberapa komunitas masyarakat adat, terutama untuk menjaga area bambu agar tetap alami tanpa alih fungsi lahan
Reina

