I Time.id Pesisir Nusantara 28 November 2925 . . Profesi nelayan menjadi salah satu tulang punggung ketahanan pangan nasional, terutama dalam menyediakan kebutuhan ikan segar di pasar. Namun di balik hasil laut yang tersaji di meja makan, tersimpan kisah perjuangan para nelayan yang harus menghadapi kerasnya kehidupan di laut.
Kebanyakan nelayan di Indonesia memulai aktivitas sejak dini hari. Tepat pukul 02.00–04.00 WIB, mereka sudah bersiap menuju laut lepas. Dengan perahu kecil dan bermodalkan jaring, alat pancing, serta bahan bakar yang sering kali terbatas, mereka mengarungi ombak untuk mencari tangkapan terbaik.
Bagi banyak keluarga pesisir, hasil tangkapan hari itu menjadi penentu ekonomi rumah tangga. Tak jarang, cuaca buruk dan ikan yang sulit ditemukan membuat para nelayan kembali dengan hasil yang jauh di bawah harapan.

Selain melaut, nelayan juga harus menjalankan berbagai aktivitas pendukung, seperti:
- Memperbaiki jaring dan peralatan yang rusak akibat arus laut atau karang.
- Membersihkan kapal agar tetap layak digunakan.
- Mengolah sebagian hasil tangkapan menjadi ikan asin ketika stok berlebih.
- Menjual hasil tangkapan ke pelelang ikan, pedagang lokal, atau langsung ke pasar.
Aktivitas yang tampak sederhana ini sebenarnya membutuhkan tenaga besar, ketelitian, serta ketahanan fisik yang kuat.
Profesi nelayan dikenal sebagai pekerjaan dengan risiko tinggi. Beberapa ancaman yang sering mereka hadapi antara lain:
1. Cuaca Ekstrem
Gelombang tinggi, badai mendadak, hingga angin puting beliung sering kali muncul tanpa peringatan jelas. Setiap tahun, sejumlah nelayan dilaporkan hilang atau kapalnya terbalik akibat kondisi cuaca yang tak terduga.
2. Konflik Wilayah Tangkap
Di beberapa daerah, nelayan tradisional harus berhadapan dengan kapal-kapal besar atau kapal asing yang masuk ke wilayah laut Indonesia. Selain menurunkan jumlah ikan, hal ini menimbulkan potensi konflik di lautan.
3. Harga Ikan yang Tidak Stabil
Saat musim panen ikan, harga justru dapat turun drastis. Sebaliknya, ketika hasil tangkapan sedikit, biaya melaut tetap tinggi, membuat keuntungan para nelayan semakin menipis.
4. Kerusakan Ekosistem Laut
Penangkapan ikan dengan alat ilegal seperti bom atau pukat harimau merusak terumbu karang dan mengurangi populasi ikan. Akibatnya, nelayan tradisional kesulitan mendapatkan hasil tangkapan meski sudah melaut berjam-jam.
Banyak nelayan tidak memiliki akses pada asuransi, perlindungan keselamatan kerja, maupun pendidikan finansial. Hal ini membuat mereka rentan secara ekonomi, terutama saat musim paceklik atau ketika alat tangkap rusak.
Program pemerintah seperti bantuan alat tangkap, BBM bersubsidi, hingga kartu asuransi nelayan sudah mulai berjalan, tetapi belum merata di seluruh wilayah pesisir Indonesia.
Meski diterpa berbagai tantangan, semangat para nelayan tidak pernah redup. “Selama laut masih ada ikan, kami akan selalu kembali ke sana,” ujar salah satu nelayan di wilayah pesisir Jawa Tengah.
Di balik kehidupan yang keras, nelayan tetap menjadi penjaga utama ketahanan pangan laut Indonesia. Dedikasi dan keberanian mereka layak mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat.
Reina

