ITime.id —Nasional 28 November 2025 Indonesia dikenal sebagai negara besar dengan kekayaan alam melimpah, jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, serta salah satu kekuatan ekonomi utama di Asia Tenggara. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, kesejahteraan rakyat Indonesia masih dinilai tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia lain seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, hingga Malaysia.
Berbagai indikator—mulai dari pendapatan per kapita, kualitas pendidikan, tingkat kesehatan, tingkat kemiskinan, hingga indeks pembangunan manusia (IPM)—menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk mengejar ketertinggalan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting: mengapa kesejahteraan rakyat Indonesia masih belum setara dengan negara Asia lainnya
1. Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia Masih Rendah
Produktivitas menjadi dasar kemajuan ekonomi sebuah negara. Sayangnya, berbagai riset menunjukkan bahwa produktivitas kerja Indonesia masih di bawah rata-rata negara Asia Timur dan Asia Tenggara.
Rendahnya produktivitas berkaitan dengan beberapa faktor berikut:
a. Tingkat pendidikan yang belum merata
Banyak tenaga kerja yang masuk pasar kerja tanpa keterampilan khusus. Sementara negara seperti Korea Selatan dan Jepang fokus pada pengembangan SDM berkualitas tinggi, Indonesia masih menghadapi tantangan angka putus sekolah dan minimnya akses pendidikan di daerah terpencil.
b. Literasi digital masih rendah
Di era teknologi, banyak sektor membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan perangkat digital. Namun, sebagian besar tenaga kerja Indonesia belum terbiasa dengan teknologi tingkat lanjut.
c. Pelatihan dan sertifikasi yang terbatas
Program vokasi sebenarnya meningkat, tetapi belum cukup untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Konsekuensinya, tenaga kerja dengan keterampilan rendah hanya mampu bekerja di sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah kecil.
2. Kualitas Pendidikan Belum Optimal dan Belum Merata
Salah satu akar ketertinggalan kesejahteraan adalah sistem pendidikan yang masih menghadapi banyak masalah struktural.
a. Ketimpangan fasilitas pendidikan
Sekolah-sekolah di kota jauh lebih baik daripada yang berada di desa atau wilayah terpencil, baik dari sisi bangunan, alat praktik, hingga tenaga pengajar.
b. Kualitas guru tidak seragam
Ketersediaan guru berkualitas masih terkonsentrasi di kota-kota besar.
c. Biaya pendidikan masih menjadi beban sebagian masyarakat
Walau banyak program pemerintah seperti BOS, sebagian keluarga masih kesulitan membiayai kebutuhan sekolah.
d. Kurangnya pembinaan pada pendidikan vokasi
Negara seperti Jepang dan Jerman sukses memajukan vokasi sebagai tulang punggung industri. Indonesia sedang menuju ke arah tersebut, tetapi jalannya masih panjang.
3. Infrastruktur yang Masih Berkembang dan Belum Merata
Pembangunan infrastruktur melonjak dalam sepuluh tahun terakhir, tetapi Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas, sehingga pemerataan pembangunan menjadi tantangan besar.
a. Kawasan Indonesia Timur masih tertinggal
Daerah seperti Papua, Maluku, dan NTT masih mengalami masalah akses transportasi, listrik, air bersih, hingga internet.
b. Biaya logistik yang tinggi
Karena infrastruktur belum merata, distribusi barang membutuhkan biaya besar. Hal ini berdampak langsung pada tingginya harga kebutuhan pokok, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
c. Konektivitas antarwilayah belum sempurna
Walaupun ada jalan tol, pelabuhan, dan bandara besar, akses ke wilayah terpencil masih bergantung pada jalur udara dan laut dengan biaya mahal.
Dibandingkan negara Asia lain seperti Tiongkok atau Korea Selatan, pembangunan infrastruktur Indonesia masih dalam tahap penguatan fondasi.
4. Ketimpangan Ekonomi yang Tinggi
Indonesia masih menghadapi ketimpangan antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Penyebabnya antara lain:
- Konsentrasi ekonomi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung
- Peluang kerja di daerah minim
- Akses permodalan UMKM yang terbatas
- Kurangnya industri lokal di daerah
Ketimpangan ini menyebabkan sebagian besar pertumbuhan ekonomi hanya dirasakan oleh segelintir kelompok, sementara mayoritas masyarakat masih berada pada tingkat kesejahteraan menengah ke bawah.
5. Sektor Kesehatan Belum Merata
Akses layanan kesehatan sangat menentukan kualitas hidup masyarakat. Namun Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan:
a. Kekurangan tenaga medis di daerah terpencil
Banyak dokter memilih kota besar karena fasilitas lebih lengkap.
b. Fasilitas rumah sakit belum memadai
Di banyak daerah, alat medis masih terbatas dan sering ketinggalan teknologi.
c. Pembiayaan kesehatan masih menjadi masalah
Meski ada BPJS Kesehatan, sebagian masyarakat mengeluhkan antrian panjang, sistem rujukan yang rumit, dan biaya tambahan yang membebani.
Negara Asia yang lebih maju memiliki sistem kesehatan yang lebih terintegrasi dan merata.
6. Ketergantungan pada Sektor Primer dengan Nilai Tambah Rendah
Indonesia masih sangat bergantung pada sektor-sektor primer seperti pertanian, perkebunan, dan tambang. Masalahnya, sektor-sektor ini memiliki nilai tambah kecil dan rentan terhadap perubahan harga dunia.
Negara Asia seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang berhasil meningkatkan kesejahteraan dengan berfokus pada:
- Teknologi
- Industri elektronik
- Manufaktur tingkat tinggi
Sementara itu, Indonesia baru mulai memperkuat sektor industri manufaktur dan teknologi.
7. Tingkat Korupsi yang Masih Menjadi Hambatan
Korupsi, kolusi, dan nepotisme masih menjadi masalah yang memengaruhi kualitas kebijakan publik dan pembangunan.
Sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat terkadang tidak optimal karena penyalahgunaan wewenang.
Negara Asia yang lebih sejahtera seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan memiliki tingkat transparansi publik yang tinggi.
8. Kesenjangan Geografis Negara Kepulauan
Indonesia memiliki 17 ribu pulau, dan hal ini membuat distribusi pembangunan menjadi lebih rumit dibandingkan negara daratan seperti Vietnam atau China.
Perbedaan kondisi geografis menyebabkan:
- Perbedaan kualitas hidup
- Perbedaan akses pendidikan
- Perbedaan akses kesehatan
- Perbedaan lapangan pekerjaan
Wilayah dengan akses paling terbatas seringkali memiliki tingkat kesejahteraan terendah.
9. Urbanisasi Tinggi, Desa Makin Tertinggal
Urbanisasi tinggi menyebabkan penduduk desa berbondong-bondong ke kota mencari pekerjaan. Akibatnya:
- Desa kekurangan tenaga produktif
- Pembangunan desa jadi lambat
- Ketimpangan kota–desa melebar
Kota semakin padat, sementara desa sulit berkembang secara ekonomi.
10. Kebijakan Ekonomi yang Belum Stabil dan Konsisten
Perubahan kebijakan antar pemerintahan dapat membuat arah pembangunan ekonomi tidak selalu konsisten.
Sementara negara seperti Singapura dan Korea Selatan memiliki perencanaan jangka panjang yang stabil dan terukur.
Di Indonesia, perubahan kebijakan sering berdampak pada:
- Investasi
- Industri manufaktur
- Dunia kerja
- Daya beli masyarakat
Upaya Pemerintah untuk Meningkatkan Kesejahteraan
Meskipun tantangan besar, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai langkah:
- Pembangunan infrastruktur besar-besaran
- Program bantuan sosial untuk rumah tangga miskin
- Peningkatan kualitas SDM lewat program vokasi dan beasiswa
- Pengembangan industri hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah
- Digitalisasi ekonomi UMKM
- Pemerataan pembangunan lewat ibu kota baru (IKN)
Namun upaya tersebut membutuhkan waktu panjang untuk memberikan dampak yang benar-benar terasa oleh seluruh masyarakat.
Kesejahteraan rakyat Indonesia masih tertinggal dibandingkan banyak negara Asia karena kombinasi berbagai faktor struktural, mulai dari produktivitas rendah, kualitas pendidikan yang belum merata, ketimpangan ekonomi, hingga infrastruktur yang masih berkembang.
Meski begitu, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Dengan fokus pada peningkatan kualitas SDM, pemerataan pembangunan, penguatan sektor kesehatan, serta transformasi ekonomi menuju industri berteknologi tinggi, kesejahteraan rakyat Indonesia dapat meningkat secara signifikan di masa mendatang.
Reina

