I Time.id , Jakarta 28 November 2025 .
Ketegangan internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mencuat, namun kali ini dinamika tersebut mengalir ke arah yang tidak diduga. Polemik yang menyeret nama Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), tak hanya memantik perdebatan struktural, tetapi juga memunculkan respons satir dari Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Amin Said Husni, yang oleh publik dinilai sebagai “sentilan halus namun telak”.
Selama beberapa pekan terakhir, sejumlah isu internal PBNU beredar di ruang publik. Bukan hanya mengenai keputusan, tetapi juga soal cara pengambilan keputusan, komunikasi antar-lini, hingga ketidakselarasan pandangan di antara dua unsur tertinggi PBNU: Syuriyah dan Tanfidziyah.
Meski tidak semua pihak menyampaikan pernyataan resmi, sumber internal menyebutkan bahwa ketegangan sudah berlangsung lebih lama dari yang tampak. “Ada dinamika, tentu ada. Tapi yang muncul ke luar itu hanya puncaknya saja,” ujar seorang pengurus wilayah yang enggan disebutkan namanya.
Di tengah kisruh itu, KH. Amin Said Husni atau yang lebih dikenal publik sebagai Cak Amin, tiba-tiba membuat pernyataan yang menyedot perhatian. Bukan karena kerasnya, tetapi karena pemilihan katanya yang sangat hati-hati, menohok, namun tidak frontal.
“Dalam organisasi sebesar PBNU, yang paling mahal itu bukan jabatan, tapi ketenangan,” ujarnya dalam sebuah forum internal yang cuplikannya beredar luas.
Pernyataan tersebut dianggap banyak pihak sebagai pesan terselubung kepada seluruh pihak yang terlibat — termasuk kepada Gus Yahya maupun kelompok yang menekan posisinya.
Beberapa pengamat NU menilai komentar itu sebagai “warning yang elegan”, mengisyaratkan bahwa konflik internal bisa berbahaya bila terus dipertontonkan ke ruang publik.
Menariknya, meski disorot dari berbagai arah, Gus Yahya tampil dengan gaya khasnya: tenang, terukur, dan tidak terburu-buru merespons setiap isu. Namun, sejumlah kader muda NU justru menyebut sikap itu sebagai “terlalu diam”.
Ada yang menilai diamnya Gus Yahya adalah bagian dari strategi. Namun ada pula yang berpendapat bahwa minimnya komunikasi terbuka justru memperbesar ruang spekulasi.
“Jika komunikasi elite tertutup, maka rumor akan mengambil alih,” kata seorang akademisi Nahdliyin dari UIN Syarif Hidayatullah.
Yang menarik dari dinamika ini adalah gaya komunikasi Cak Amin. Berbeda dari elite lain yang memilih berkomentar tegas atau bahkan menolak bicara, Cak Amin menggunakan bahasa yang lebih lembut, namun sarat makna.
Ia tidak menyebut nama, tidak menyalahkan pihak mana pun, dan tidak mengulang narasi polemik yang dibicarakan publik. Namun pesannya jelas: PBNU harus lebih berhati-hati dan tidak terbawa arus konflik personal maupun politik.
Sumber internal PBNU menyebutkan bahwa Cak Amin selama ini dikenal sebagai figur penyejuk, dan sikapnya kali ini mencerminkan upaya menjaga marwah organisasi.
Dari berbagai pihak, muncul dua dorongan:
- Rekonsiliasi — agar konflik tidak meluas dan NU tetap solid menjelang tahun politik.
- Muktamar lebih cepat — sebagai cara paling demokratis menentukan arah baru PBNU.
Namun hingga kini, belum ada keputusan final.
Yang jelas, polemik ini menunjukkan satu hal:
NU sedang berada pada fase penting, dan bagaimana elite bertindak hari ini akan menentukan wajah organisasi dalam satu dekade ke depan.
Reina

