I time. Id Jakarta 29 November 2025 .— Menjelang genap satu tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran, banyak pihak menyoroti kinerja para menteri di kabinet — dengan sejumlah catatan plus dan minus. Berikut rangkuman dari ragam hasil survei, pujian, dan kritik terhadap para pembantu Presiden dan Wakil Presiden itu.

- Berdasarkan survei dari Center for Economic and Law Studies (Celios), beberapa menteri berhasil mendapat skor positif tinggi. Diantaranya: Agus Harimurti Yudhoyono (Menko Infrastruktur & Pembangunan Kewilayahan) meraih skor tertinggi — 50 poin.
- Posisi bagus juga diraih Nasaruddin Umar (Menteri Agama), dengan skor 48, lalu Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar & Menengah) — 44 poin, Prasetyo Hadi (Sekretaris Negara) 35 poin, dan Budi Gunadi Sadikin (Menteri Kesehatan) 31 poin.
- Menurut pernyataan Antara, pemerintahan Prabowo-Gibran telah “memupuk optimisme publik” meski di tengah ketidakpastian global — berkat stabilitas makroekonomi dan program-program kesejahteraan.
- Selain itu, penelitian 100-hari awal pemerintahan menunjukkan bahwa Menteri Agama mendapatkan penilaian terbaik di antara para menteri — menunjukkan adanya start yang baik.
- Namun, tidak semua berjalan mulus. Celios, dalam survei satu tahun, memberi nilai rata-rata hanya 3 dari 10 untuk keseluruhan kabinet — indikasi bahwa banyak publik merasa harapannya belum terwujud.
- Beberapa menteri mendapat rapor merah: misalnya Bahlil Lahadalia (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) teratas dalam daftar menteri berkinerja buruk, dengan skor –151 poin.
- Kritik terhadap aspek koordinasi dan komunikasi juga muncul. Akademisi menilai ada jarak antara visi Presiden dan pelaksanaan di level kementerian — menyebabkan derap kebijakan terasa lambat dan kurang terasa dampaknya bagi masyarakat.
Hasil-hasil di atas menunjukkan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran menghadapi realitas yang kompleks. Di satu sisi, ada menteri yang cukup menonjol dengan capaian positif — membawa harapan dan optimisme. Di sisi lain, ada kekecewaan publik terhadap sebagian kabinet, baik terkait efektivitas kebijakan maupun kejelasan hasil bagi masyarakat.
Menurut Celios, distribusi nilai positif vs negatif mencerminkan “kontras tajam antara menteri yang berhasil menjalankan program secara efektif dan mereka yang kesulitan menjaga stabilitas kebijakan.”
Jadi, bila ditanya “Benarkah kinerja menteri era Prabowo-Gibran banyak nilai plus?”, jawabannya: ya, sebagian memang menunjukkan kinerja positif dan membawa harapan. Namun tidak semua menteri berhasil memenuhi ekspektasi — ada yang mendapat penilaian buruk, dan publik banyak menyuarakan ketidakpuasan terhadap keseluruhan kabinet.
Kuncinya ke depan: keberlanjutan, konsistensi, dan hasil nyata di lapangan — agar optimismenya tidak sekadar retorika.
Reina

