ITime. Id 2 Desember 2025 .Indonesia kembali menghadapi tantangan serius di sektor pertanian seiring meningkatnya curah hujan ekstrem di sejumlah daerah. Dalam beberapa bulan terakhir, petani di wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, hingga sebagian Sumatera Utara melaporkan kerugian akibat gagal panen yang dipicu cuaca tak menentu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat intensitas hujan 2025 cenderung lebih tinggi dari rata-rata tahunan. Kondisi ini menyebabkan siklus tanam tak dapat berjalan normal, terutama pada tanaman padi, jagung, dan sayuran.
“Petani sulit menentukan waktu tanam karena hujan tidak sesuai pola biasanya,” ungkap salah satu penyuluh pertanian di Kabupaten Cilacap.
Curah hujan tinggi memicu genangan yang merendam lahan hingga berhari-hari. Akar tanaman menjadi busuk, tanah kehilangan unsur hara, dan tanaman tidak dapat berkembang.
Di Kabupaten Karawang, sekitar 1.200 hektare sawah dilaporkan terendam, menyebabkan penurunan produksi hampir 40%.
Kelembapan berlebih juga memicu berkembangnya organisme pengganggu tanaman seperti wereng, ulat grayak, dan jamur. Serangan hama ini memperburuk kondisi tanaman yang sudah lemah akibat curah hujan ekstrem.
Petani mengalami lonjakan biaya produksi, mulai dari pembelian benih ulang, pestisida tambahan, hingga perbaikan lahan yang rusak. Harga komoditas pun berpotensi naik, terutama beras dan sayuran segar.
Kementerian Pertanian disebut tengah memperkuat program asuransi pertanian, pembangunan drainase modern, serta penyesuaian kalender tanam berbasis data BMKG. Sejumlah daerah mulai menggunakan varietas padi tahan genangan sebagai upaya adaptasi.
Meski tantangan meningkat, para petani berharap pemerintah memperluas bantuan, termasuk akses alat pengendali banjir, pupuk berkualitas, dan edukasi mengenai manajemen tanam saat cuaca ekstrem.
“Saat ini kami butuh dukungan konkret, bukan hanya imbauan,” ujar seorang petani dari Kabupaten Gowa.
Kondisi cuaca yang semakin tidak stabil membuat adaptasi pertanian menjadi kunci utama menjaga ketahanan pangan nasional. Tanpa langkah cepat dan strategis, risiko gagal panen diperkirakan akan terus meningkat.
Reina

