ITime. Id Bogor 3Drsember 2025 .Arus kendaraan menuju Puncak Bogor kembali mengalami kepadatan signifikan, terutama pada siang hingga sore hari, membuat antrean mobil dan motor mengular cukup panjang di beberapa titik utama.
Menurut laporan warga, antrean kendaraan dari arah Cisarua menuju kawasan atas Puncak mencapai waktu tempuh sampai dua jam, padahal biasanya hanya 10–15 menit saja.
Untuk mengurai kemacetan, petugas dari Polres Bogor menerapkan rekayasa lalu lintas. Skema seperti sistem satu arah (one-way) dan kebijakan ganjil-genap kembali diberlakukan di sejumlah titik di jalur Puncak.

Faktor Penyebab: Liburan dan Lonjakan Wisatawan
Kepadatan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke kawasan Puncak — didorong oleh libur akhir pekan dan aktivitas wisata di kawasan pegunungan. Volume kendaraan yang sangat besar terutama dari arah ibu kota memperparah kondisi.
Salah satu titik rawan kemacetan adalah di area Simpang Gadog dan arah ke Cisarua, yang sering menjadi “bottleneck” saat arus wisatawan naik dan turun.
Rekayasa Lalin: One-Way & Ganjil-Genap Diterapkan
Sebagai langkah antisipasi, Polres Bogor telah menerapkan:
- One-way (satu arah) — kendaraan hanya diperbolehkan satu arah pada waktu-waktu tertentu untuk mengurai kepadatan.
- Ganjil-genap (gage) — pembatasan kendaraan berdasarkan nomor pelat untuk mengontrol volume kendaraan ke kawasan Puncak.
Meski demikian, bahkan dengan kebijakan rekayasa lalu lintas, antrean kendaraan tetap terlihat mengular — menandakan bahwa volume kendaraan sangat besar.
Imbauan untuk Wisatawan: Rencanakan Perjalanan dengan Bijak
Polisi dan instansi terkait mengimbau masyarakat yang ingin berwisata ke Puncak untuk:
- Memilih waktu keberangkatan di luar jam puncak, misalnya pagi sekali atau malam.
- Memantau situasi lalu lintas via CCTV atau media resmi sebelum berangkat.
- Jika memungkinkan, gunakan jalur alternatif untuk menghindari titik macet utama.
Langkah-langkah tersebut diambil agar perjalanan tetap aman, nyaman, dan tidak membuat wisatawan — maupun warga lokal — terjebak kemacetan parah.
Reina

