ITime.id – 4Desember 2025 . Di berbagai kota besar Indonesia, keberadaan anak punk—sering disebut anak pank—telah menjadi bagian dari wajah kehidupan jalanan. Rambut mohawk, jaket penuh emblem, pakaian lusuh, serta musik keras yang mereka dengar membuat banyak orang mengira bahwa mereka berasal dari keluarga tidak mampu. Namun kenyataan di balik tampilan itu jauh lebih kompleks: sebagian dari mereka justru adalah anak-anak dari keluarga berada, berpendidikan, dan memiliki fasilitas hidup yang memadai.
Fenomena ini mengundang pertanyaan besar: Mengapa remaja yang seharusnya memiliki masa depan cerah justru memilih hidup “di jalan”?

Bukan Karena Kemiskinan, Namun Karena Pencarian Jati Diri
Berbeda dengan stereotip anak jalanan, banyak anak punk modern datang dari lingkungan rumah yang nyaman. Mereka memiliki orang tua yang mapan, gawai canggih, hingga sekolah berkualitas. Namun tekanan sosial, ekspektasi berlebihan, konflik keluarga, hingga rasa tidak dihargai sering menjadi pemicu mereka mencari pelarian.
Sosiolog perkotaan menyebut fenomena ini sebagai “pemberontakan identitas”.
Mereka menolak arus utama, menolak struktur, dan ingin diakui bukan karena latar belakang, tetapi karena diri mereka sendiri.
Bagi sebagian remaja, komunitas punk menawarkan sesuatu yang sering tidak mereka temukan di rumah:
penerimaan total tanpa syarat.
Komunitas Punk: Rumah Kedua yang Memberi Rasa Bebas
Dalam komunitas ini, mereka menemukan solidaritas yang kuat, kesetaraan, dan kebebasan mengekspresikan diri. Musik punk, gaya hidup bebas, hingga filosofi anti kemapanan menjadi ruang untuk berteriak, mengekspresikan tekanan batin, dan merasa “hidup”.
Namun, kehidupan jalanan tetap menyimpan risiko:
– pola tidur tidak teratur,
– kebiasaan merokok sejak dini,
– kerentanan terhadap kekerasan,
– dan lingkungan yang tidak stabil.
Pilihan hidup ini seringkali bukan sekadar “gaya”, tetapi bentuk perlawanan dan sinyal bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan antara anak dan keluarga mereka.
Ketika Keluarga Mampu Gagal Memberi Kehangatan
Psikolog perkembangan remaja menjelaskan bahwa banyak anak punk dari keluarga mampu justru mengalami kekosongan emosional.
Orang tua sibuk bekerja, kurang komunikasi, bahkan ada yang hanya menilai anak dari prestasi akademik.
“Anak diberi fasilitas, tapi tidak diberi ruang bercerita,” ujar seorang psikolog remaja.
Akibatnya, anak merasa lebih diterima oleh teman sebaya di jalan dibandingkan di rumah sendiri. Fenomena ini memperlihatkan bahwa kemapanan materi tidak selalu sejalan dengan kesehatan hubungan keluarga.
Tantangan Pemerintah: Membina Tanpa Memaksa
Pemerintah daerah telah mencoba menarik anak punk ke program pembinaan, pelatihan keterampilan, hingga pendekatan persuasif. Namun tidak sedikit yang kembali ke jalan karena kehidupan punk adalah pilihan, bukan keterpaksaan.
Pendekatan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan diperlukan, terutama:
- memperkuat komunikasi keluarga,
- menyediakan ruang ekspresi remaja,
- serta menanamkan nilai kedisiplinan tanpa mengekang kreativitas.
Refleksi Sosial: Ketika Jalanan Menjadi Tempat Mencari “Rumah”
Fenomena anak punk dari keluarga mampu adalah gambaran bahwa persoalan remaja hari ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal mental, tekanan hidup, dan kebutuhan perhatian.
Mereka tidak sedang mencari masalah—mereka sedang mencari diri sendiri.
Dan sering kali, jalanan menawarkan kebebasan yang tidak mereka temukan di rumah.
Artikel ini menjadi pengingat bahwa setiap anak membutuhkan ruang untuk didengar.
Bukan hanya diberi fasilitas, tetapi juga diberi kasih sayang, bimbingan, dan tempat untuk pulang.
Reina

