ITime. Id, 5Desember 2025 .Sumatra Banjir dan longsor hebat yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra menyisakan duka mendalam: lebih dari 700 orang tewas, ribuan rumah rusak, dan log kayu terbawa arus sungai menghanyut — memicu kemarahan warga terhadap apa yang mereka sebut “tangan licik” di balik deforestasi massal.

Warga & Aktivis: “Tangan Licik” Pemicu Bencana
Warga terdampak, seperti seorang perempuan bernama Reliwati Siregar, secara emosional menunjuk pada kawasan bekas hutan yang gundul di sekitar rumahnya. “Mischievous hands cut down trees … they don’t care about the forests, and now we’re paying the price,” ujar dia di lokasi evakuasi di Tapanuli.
Menurut Siregar, hujan yang mengguyur memang memicu banjir — tetapi “mustahil hujan bisa menyeret sebanyak ini kayu” seperti yang terlihat setelah banjir.
Para aktivis lingkungan serta organisasi masyarakat sipil, seperti JATAM dan WALHI, menyatakan bahwa hilangnya tutupan hutan — akibat izin tambang, kegiatan logging, perkebunan sawit dan sejumlah proyek ekstraktif — telah menghancurkan fungsi alam sebagai penyangga terhadap banjir dan longsor.
Deforestasi Masif di Sumatra: Fakta-fakta yang Mengkhawatirkan
- Menurut data dari pemantau lahan, sejak 2001 sampai 2024 kawasan hutan di Sumatra telah menyusut sekitar 4,4 juta hektar — luas setara negara seperti Swiss.
- Di provinsi seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat — provinsi paling terdampak — sektor tambang, perkebunan dan penggunaan lahan menjadi kontributor besar terhadap kerusakan hutan.
Pemerintah: Janji Investigasi & Revisi Izin
Merespons krisis ini, pemerintah melalui kementerian lingkungan mengumumkan bakal menyelidiki asal-usul kayu terseret banjir — apakah berasal dari penebangan legal, izin konsesi, atau praktik ilegal.
Sanksi tegas, termasuk pencabutan izin tambang atau konsesi bagi perusahaan yang terbukti melanggar, kini menjadi opsi yang disiapkan, untuk mencegah bencana serupa di masa depan.
Lebih dari Sekedar Cuaca — Kombinasi Faktor Alam & Ulah Manusia
Meski badai dan curah hujan ekstrem dari siklon tropis menjadi pemicu langsung — fenomena yang semakin marak akibat perubahan iklim global — para ahli menekankan bahwa bencana akan jauh lebih parah ketika hutan yang menjadi penyangga hilang.
Tanpa pepohonan dan ekosistem alami yang sehat, risiko longsor, aliran lumpur dan hantaman kayu hanyut menjadi jauh lebih tinggi — membahayakan nyawa dan hunian masyarakat.
Mengapa Ini Penting bagi Indonesia
- Deforestasi bukan sekadar isu lingkungan — perusakan hutan kini nyata menjadi pemicu tragedi kemanusiaan.
- Penegakan hukum terhadap izin konsesi, tambang, dan perkebunan harus diperkuat agar tidak terjadi eksploitasi yang merusak lingkungan dan memicu bencana.
- Pemulihan pasca-bencana harus diiringi dengan restabilisasi ekosistem — reforestasi, rehabilitasi kawasan kritis, dan perbaikan tata kelola lahan.
- Publik, pemerintah, dan perusahaan harus sadar: keuntungan ekonomi jangka pendek tidak layak dibayar dengan nyawa dan kehancuran alam.
Reina

