ITime.id – Artikel Panjang 6Desember 2025 . Indonesia adalah negara yang dianugerahi keberagaman luar biasa. Dengan lebih dari 700 suku bangsa dan enam agama besar yang diakui negara, Negeri Nusantara sering digambarkan sebagai “rumah besar” tempat jutaan orang dengan latar belakang berbeda hidup berdampingan. Keragaman ini bukan hanya identitas, tetapi fondasi yang terus mempersatukan bangsa sejak era kemerdekaan hingga kini.

Di tengah dinamika zaman, isu kerukunan beragama dan penghormatan adat istiadat menjadi semakin relevan. Keduanya menjadi kunci untuk menjaga harmoni sosial, mencegah konflik, dan memperkuat rasa kebangsaan di tengah tantangan global.
Kerukunan Beragama: Nafas Persatuan yang Terus Dijaga
1. Sejarah panjang toleransi Nusantara
Kerukunan antarumat beragama bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia. Sejak masa kerajaan-kerajaan kuno seperti Sriwijaya, Majapahit, hingga Mataram, jejak toleransi sudah terlihat. Agama Buddha, Hindu, Islam, dan kepercayaan lokal berkembang secara damai di berbagai wilayah.
Jejak penemuan arca Hindu di kompleks masjid, struktur pura yang berdampingan dengan cagar Islam, hingga pengaruh budaya Tionghoa dalam seni dan arsitektur menegaskan bahwa masyarakat sejak dahulu menjalani hidup dengan saling menghormati.
2. Kehidupan beragama di era modern
Di berbagai daerah Indonesia, kerukunan antarumat beragama tercermin dalam interaksi sehari-hari:
- Di Bali, masyarakat Hindu dan Muslim bekerja sama dalam kegiatan adat maupun sosial.
- Di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tradisi gotong royong mengikat warga, terlepas dari agama apapun yang dianut.
- Di Manado dan Ternate, gereja dan masjid berdiri berdekatan, menjadi simbol kedamaian di wilayah timur.
Tidak sedikit daerah yang dikenal sebagai ikon toleransi, seperti Kota Bogor, Kupang, Malang, dan Ambon yang terus menggalakkan dialog lintas agama setelah melewati masa konflik.
3. Peran FKUB dan pemerintah
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) hadir di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Tugasnya meliputi:
- menyelesaikan potensi gesekan sosial,
- memediasi perizinan rumah ibadah,
- menyelenggarakan dialog antaragama,
- mengedukasi masyarakat tentang bahaya intoleransi.
Pemerintah pusat dan daerah juga memperkuat undang-undang terkait kebebasan beragama dan kampanye moderasi beragama sebagai landasan kerukunan nasional.
4. Tantangan di ruang digital
Era internet membawa sisi positif namun juga menghadirkan ancaman seperti:
- penyebaran hoaks bernuansa SARA,
- ujaran kebencian,
- polarisasi komunitas,
- intoleransi berbasis opini sepihak.
Namun demikian, banyak pula komunitas digital, kreator konten, dan aktivis lintas agama yang menggalakkan pesan damai, literasi digital, serta konten edukatif tentang toleransi.
Menghormati Adat Istiadat: Menjaga Akar Kearifan Lokal Nusantara
Indonesia tidak hanya kaya agama, tetapi juga kaya adat istiadat yang diwariskan turun-temurun. Inilah yang membuat identitas bangsa semakin unik.
1. Ragam adat dari Sabang sampai Merauke
Beberapa contoh adat istiadat yang masih lestari hingga kini meliputi:
- Upacara Ngaben (Bali) yang menghormati arwah leluhur.
- Tradisi Sedekah Laut (Jawa) sebagai bentuk syukur kepada alam.
- Malam Bainai (Minangkabau) dalam ritual pernikahan.
- Mangandung dan Mome’a’o (Sulawesi & Maluku) sebagai tradisi ekspresi duka dan penghormatan leluhur.
- Gawai Dayak (Kalimantan) sebagai pesta panen dan syukur atas kehidupan.
Setiap daerah memiliki filosofi yang berbeda namun satu tujuan: merawat keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
2. Adat sebagai perekat sosial
Dalam masyarakat multietnis, adat istiadat menjadi “jembatan budaya” yang memperkuat hubungan antarwarga. Upacara adat sering kali melibatkan pihak dari berbagai suku, sehingga tercipta interaksi harmonis yang menghapus sekat perbedaan.
Misalnya:
- Di Sumatera Utara, adat Dalihan Natolu mengajarkan konsep menghormati yang tua, menyayangi yang muda, dan bersikap bijak pada sesama.
- Di Papua, tradisi bakar batu menjadi simbol kebersamaan sekaligus wadah penyelesaian masalah.
- Di Nusa Tenggara Timur, tarian Caci Manggarai menjadi media perdamaian dan penyatuan masyarakat.
3. Peran generasi muda dalam pelestarian adat
Saat modernisasi bergerak cepat, ancaman terkikisnya adat menjadi nyata. Namun banyak generasi muda yang kini justru bangga dan mulai kembali mempelajari:
- bahasa daerah,
- seni tari dan musik tradisional,
- cara hidup kearifan lokal,
- praktik adat keluarga,
- upacara simbolik dan budaya leluhur.
Festival budaya, pameran nasional, hingga konten digital membuat adat istiadat semakin dekat dengan dunia milenial dan Gen-Z.
Sinergi Antara Agama dan Budaya sebagai Identitas Kebangsaan
Kerukunan beragama dan penghormatan adat istiadat tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya bersinergi membentuk karakter bangsa Indonesia yang moderat, toleran, dan penuh nilai kemanusiaan.
Nilai-nilai seperti:
- gotong royong,
- musyawarah,
- tepo seliro,
- mapalus,
- pela gandong,
- siri’ na pacce
menjadi filosofi dasar yang diwariskan seluruh suku dan agama di Nusantara.
Tantangan dan Harapan Ke Depan
1. Tantangan sosial
Konflik horizontal, penyalahgunaan isu agama, serta masuknya ideologi luar yang ekstrem menjadi tantangan serius. Pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat pendidikan karakter sejak dini untuk membentengi generasi muda.
2. Harapan bagi masa depan Indonesia
Harapan terbesar adalah terwujudnya generasi yang:
- lebih toleran,
- aktif menjaga persatuan,
- tidak mudah terprovokasi,
- bangga terhadap budaya bangsa,
- memahami perbedaan sebagai kekayaan, bukan ancaman.
Indonesia berdiri kokoh karena fondasi kebhinnekaannya. Kerukunan antarumat beragama dan penghormatan terhadap adat istiadat adalah warisan berharga yang harus terus dijaga.
Dengan memelihara semangat toleransi dan melestarikan budaya leluhur, Indonesia dapat tetap menjadi negara yang damai, harmonis, dan kuat menghadapi berbagai tantangan zaman.
Reina

