ITime.id — 9Desember 2025 Perubahan kurikulum pendidikan kembali menjadi perhatian para orang tua dan wali murid di berbagai sekolah. Meskipun pemerintah menghadirkan Kurikulum Merdeka sebagai bentuk penyempurnaan sistem pendidikan, banyak orang tua menilai bahwa materi inti yang dipelajari anak-anak sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kurikulum di masa lalu. Perbedaan terbesar justru terletak pada istilah, format penilaian, dan model penyampaiannya.

Sejak era Kurikulum 2013 hingga Kurikulum Merdeka, sejumlah istilah baru seperti Capaian Pembelajaran (CP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), hingga Projek Profil Pelajar Pancasila mulai diperkenalkan. Namun, banyak wali murid mengaku kebingungan karena merasa perubahan tersebut tidak dibarengi dengan penjelasan yang mudah dipahami.
“Pelajarannya tetap sama, matematika tetap matematika, bahasa tetap bahasa. Tapi istilahnya berubah-ubah dan membuat kami bingung,” ungkap salah satu wali murid saat ditemui seusai kegiatan rapat sekolah.

Guru dan Sekolah Berusaha Menyesuaikan, Namun Sosialisasi Belum Merata
Pihak sekolah menyampaikan bahwa adaptasi kurikulum baru memerlukan waktu yang tidak singkat. Guru harus menyesuaikan perangkat ajar, model evaluasi, hingga penyusunan tugas proyek. Sayangnya, proses ini tidak selalu berjalan seimbang di semua sekolah, sehingga sosialisasi yang diterima orang tua pun berbeda-beda.
Hal tersebut membuat sebagian wali murid tidak mengerti perbedaan antara penilaian angka, penilaian deskriptif, atau capaian pembelajaran yang kini digunakan.

Inti Kurikulum Tak Banyak Berubah, Hanya Istilahnya yang Berganti
Ahli pendidikan menjelaskan bahwa perubahan kurikulum pada dasarnya adalah penyempurnaan proses belajar. Inti materi pendidikan tetap fokus pada kemampuan dasar seperti literasi, numerasi, pemahaman konsep, dan pembentukan karakter siswa.
Perubahan istilah dinilai lebih merupakan penyelarasan dengan perkembangan pendidikan global, bukan pergantian total isi materi.
Namun bagi sebagian orang tua, perubahan nama tanpa penjelasan yang mudah dipahami justru menimbulkan kebingungan baru.
Orang Tua Harapkan Kurikulum yang Lebih Transparan dan Mudah Dipahami
Wali murid berharap sekolah dan pemerintah menyediakan sosialisasi yang lebih jelas, ringkas, serta langsung pada inti agar mereka dapat mendampingi anak belajar dengan lebih baik.
“Kami hanya ingin tahu apa yang harus dikerjakan anak, bagaimana cara mendampingi, dan apa tujuan belajar mereka. Itu saja sudah cukup,” ujar seorang orang tua siswa.
Dengan semakin banyaknya istilah baru dalam pendidikan, orang tua berharap perubahan kurikulum benar-benar membawa manfaat nyata, bukan hanya menjadi kebingungan administrasi.
Reina

