ITime.id —10 Desember 2025 Aktivitas pebalakan kayu liar kembali menjadi sorotan setelah sejumlah kawasan hutan di Indonesia menunjukkan kerusakan yang semakin parah. Penebangan pohon tanpa izin yang dilakukan secara terorganisir maupun perorangan telah merusak keseimbangan ekosistem yang selama ini menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna endemik.

Dalam beberapa pekan terakhir, tim pemantau lapangan dan masyarakat sekitar hutan melaporkan hilangnya puluhan pohon berdiameter besar di wilayah hutan lindung. Penebangan dilakukan secara diam-diam, terutama pada malam hari, untuk menghindari patroli aparat. Bekas potongan pohon yang berserakan serta jalur angkut membuat kerusakan vegetasi semakin meluas.
Para ahli lingkungan menilai bahwa tindakan tersebut bukan hanya mengurangi luas hutan, tetapi juga mengganggu fungsi ekologisnya. Pohon-pohon besar yang ditebang menyebabkan hilangnya penyangga tanah, memicu erosi, dan memperburuk kualitas air. Beberapa habitat satwa seperti burung, primata, hingga mamalia liar kini berada dalam kondisi terancam.

Kerusakan ekosistem juga berpotensi menimbulkan bencana alam di masa mendatang. Daerah aliran sungai yang kehilangan vegetasi penopang rentan mengalami banjir saat musim hujan dan kekeringan ekstrem saat musim kemarau. Kondisi ini tentunya berdampak langsung pada warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Pemerintah dan aparat penegak hukum telah meningkatkan operasi pemberantasan pembalakan liar, termasuk patroli rutin serta penindakan terhadap pelaku dan jaringan perdagangan kayu ilegal. Namun, tantangan masih besar mengingat tingginya nilai ekonomis kayu dan lemahnya pengawasan di beberapa titik hutan.
Masyarakat pun diharapkan terus berperan aktif dalam menjaga kelestarian hutan dengan melaporkan aktivitas mencurigakan serta mendukung program rehabilitasi lingkungan. Upaya kolektif dari berbagai pihak dinilai menjadi kunci untuk menyelamatkan ekosistem hutan yang terus mengalami tekanan.
Reina

