itime.id – 16 Desember 2025 Dalam kehidupan sosial yang semakin dinamis, sikap bijak menjadi nilai penting yang seharusnya dimiliki setiap individu. Namun, pada kenyataannya, berlaku bijak untuk diri sendiri maupun orang lain masih kerap disalahartikan. Tidak jarang, kebijaksanaan justru dianggap sebagai sikap lemah, tidak tegas, bahkan disalahpahami sebagai bentuk ketidakpedulian

Berlaku bijak pada dasarnya berarti mampu menempatkan diri secara tepat dalam setiap situasi. Seseorang yang bijak mampu berpikir jernih, mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan, serta menghargai perasaan dan hak orang lain tanpa mengabaikan kepentingan pribadi. Sayangnya, di tengah budaya serba cepat dan penuh tuntutan, sikap ini sering kali berbenturan dengan ekspektasi lingkungan.
Dalam beberapa kasus, individu yang memilih menahan diri dari konflik demi menjaga keharmonisan justru dianggap tidak berani bersuara. Padahal, kebijaksanaan bukan berarti menghindari masalah, melainkan memilih cara terbaik untuk menyelesaikannya tanpa menimbulkan dampak negatif yang lebih besar.
Begitu pula ketika seseorang bersikap tegas demi menjaga batasan pribadi, tak jarang hal tersebut dipersepsikan sebagai egoisme. Padahal, bijak terhadap diri sendiri berarti memahami kapasitas, menjaga kesehatan mental, serta tidak memaksakan diri demi memenuhi keinginan orang lain yang berlebihan.
Fenomena salah tafsir ini juga dipengaruhi oleh kurangnya empati dalam interaksi sosial. Di era media sosial, penilaian sering kali dilakukan secara sepihak tanpa memahami konteks secara utuh. Sikap bijak yang seharusnya diapresiasi justru menjadi sasaran kritik karena tidak sesuai dengan sudut pandang mayoritas.
Para pengamat sosial menilai, penting bagi masyarakat untuk kembali memahami makna kebijaksanaan secara utuh. Bijak bukan soal menyenangkan semua pihak, melainkan tentang bertindak adil, proporsional, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.
Dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya empati dan komunikasi yang sehat, diharapkan sikap bijak tidak lagi disalahartikan. Sebaliknya, kebijaksanaan dapat menjadi fondasi dalam membangun hubungan sosial yang lebih harmonis, saling menghargai, dan berorientasi pada kebaikan bersama.
Reina

