ITime. JAKARTA. 29 Desember 2025 – Banyak yang menganggap stem cell hanya berkaitan dengan pengobatan penyakit berat seperti kanker atau gangguan saraf. Padahal, sel punca ini memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan tubuh, bahkan bagi kalangan menengah yang belum mengalami masalah medis serius. Beberapa temuan terbaru bahkan menunjukkan potensi stem cell yang belum banyak dikenal, mulai dari sumber yang mudah diperoleh hingga aplikasi yang bisa mengubah paradigma perawatan kesehatan.
Stem Cell dari Plasenta: Sumber Regenerasi yang Terlupakan
Salah satu sumber stem cell yang masih jarang diketahui adalah plasenta – organ yang biasanya dibuang setelah persalinan. Padahal, plasenta mengandung berbagai jenis sel punca dengan kemampuan regeneratif tinggi, seperti mesenchymal stem cells (MSC) dan hematopoietic stem cells (HSC).
“Stem cell dari plasenta memiliki keunggulan imunogenisitas rendah, sehingga risiko reaksi penolakan tubuh sangat kecil,” jelas peneliti dari Regenic Indonesia dalam artikel mereka. Selain itu, pengambilan sel punca dari plasenta tidak menimbulkan risiko bagi ibu atau bayi, karena dilakukan setelah persalinan dengan persetujuan orang tua.
Potensi penggunaannya sangat luas: MSC dapat memperbaiki jaringan tulang, otot, dan kartilago – sangat bermanfaat bagi kalangan menengah yang sering mengalami nyeri sendi akibat aktivitas atau penuaan dini. Sementara HSC telah digunakan dalam pengobatan penyakit darah seperti leukemia, bahkan berpotensi meningkatkan sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan.
Teknologi Xeno-Free: Membuat Stem Cell Lebih Aman dan Aksesibel
Salah satu kendala dalam penggunaan stem cell adalah risiko kontaminasi dari komponen hewan yang digunakan dalam proses kultur sel. Namun, terobosan baru dari mahasiswa Indonesia asal Inggris, Rizal Aziz, berhasil mengembangkan teknologi xeno-free – media kultur sel punca yang sepenuhnya bebas dari bahan hewani – dan telah mendapatkan paten internasional.
Teknologi ini tidak hanya meningkatkan keamanan terapi stem cell dengan mengurangi risiko infeksi atau reaksi imun, tetapi juga membuat biaya produksi lebih terjangkau. Sebelumnya, media kultur yang mengandalkan serum sapi atau komponen hewani lainnya seringkali mahal dan memiliki masalah etika. Dengan xeno-free, stem cell dapat dikultur dengan lebih efisien dan aman untuk digunakan dalam berbagai aplikasi kesehatan.
Organoid Berdarah: Simulasi Organ yang Bantu Deteksi Penyakit Dini
Penelitian terbaru dari Stanford University menunjukkan bahwa stem cell dapat digunakan untuk membuat organoid berdarah – struktur mirip organ dengan jaringan pembuluh darah yang lengkap – seperti jantung dan hati. Organoid ini tidak hanya bisa digunakan untuk mempelajari perkembangan penyakit secara aman tanpa perlu uji coba pada manusia, tetapi juga berpotensi menjadi alat untuk mendeteksi risiko penyakit kronis pada kalangan menengah.
Misalnya, organoid hati dari stem cell pasien dapat membantu dokter melihat bagaimana tubuh merespons makanan atau obat tertentu, sehingga bisa memberikan rekomendasi gaya hidup yang lebih personal. Hal ini sangat berguna untuk mencegah penyakit seperti diabetes atau penyakit hati yang sering muncul pada usia menengah.
Autologous vs Allogenic: Pilih yang Sesuai dengan Kebutuhan
Banyak yang tidak tahu bahwa terapi stem cell ada dua jenis utama: autologous (dari tubuh sendiri) dan allogenic (dari donor).
- Stem cell autologous diambil dari sumsum tulang, lemak, atau darah pasien sendiri. Risiko penolakan sangat rendah dan tidak memerlukan obat imunosupresif, sehingga cocok untuk mengatasi masalah seperti osteoarthritis atau cedera otot pada kalangan menengah.
- Stem cell allogenic berasal dari donor muda dan sehat, sehingga potensi regeneratifnya lebih tinggi. Selain itu, ia memiliki efek imunomodulasi yang bisa membantu mengatasi peradangan kronis atau penyakit autoimun yang mungkin muncul seiring bertambahnya usia.
Tidak Hanya untuk Pengobatan – Stem Cell Juga Bantu Anti-Penuaan Seluler
Selain perawatan penyakit, stem cell juga berperan dalam menjaga kesehatan pada tingkat sel. Seiring bertambahnya usia, jumlah dan kemampuan stem cell dalam tubuh menurun, menyebabkan penuaan jaringan dan organ. Dengan memberikan stem cell tambahan atau merangsang stem cell alami dalam tubuh, dapat memperbaiki sel yang rusak dan meningkatkan fungsi organ secara keseluruhan.
Beberapa studi menunjukkan bahwa terapi stem cell dapat meningkatkan elastisitas kulit, mengurangi kerutan, bahkan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap stres oksidatif – faktor utama penuaan dini. Namun, penting untuk diingat bahwa penggunaan stem cell untuk keperluan kosmetik atau anti-penuaan harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis yang kompeten.
Peringatan Penting: Hindari Penipuan dan Pilih Layanan yang Terpercaya
Meskipun potensinya besar, perlu diingat bahwa tidak semua klaim tentang stem cell adalah benar. Banyak penipuan yang menawarkan terapi stem cell dengan hasil yang tidak terbukti secara ilmiah. Di Indonesia, penggunaan stem cell untuk terapi medis diatur ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan.
“Pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis sebelum memutuskan menjalani terapi stem cell,” ajak para ahli. Pilihlah fasilitas yang memiliki izin resmi dan menggunakan teknologi yang terbukti aman dan efektif.
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimeperistiwa, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews
