Itime. Jakarta, 2 Januari 2026 – Risiko gempa bumi besar di Indonesia semakin menjadi sorotan dunia setelah pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024. Peta terbaru ini mencatat adanya 14 zona megathrust yang mengelilingi wilayah Indonesia, meningkat dari sebelumnya hanya 13 zona pada peta tahun 2017.
Perubahan ini menunjukkan peningkatan tingkat bahaya gempa di sejumlah wilayah, ditandai dengan kontur bahaya yang lebih rapat pada peta baru. Ahli seismologi dari Jepang, Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, memberikan peringatan khusus terkait hal ini.
Menurut Heki, karakter geologi Indonesia memiliki kemiripan dengan zona Nankai Trough di Jepang, salah satu kawasan megathrust paling aktif di dunia. “Fenomena pergeseran lambat (slow slip) yang diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang bisa saja memicu gempa besar berikutnya,” ujar Heki, seperti dikutip dari situs Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki banyak zona subduksi aktif dari Sumatra hingga Maluku, sehingga berpotensi mengalami peristiwa serupa. Heki bahkan sedang mengerjakan penelitian terkait masalah ini di Indonesia, dengan fokus pada pemantauan menggunakan teknologi GNSS (Global Navigation Satellite System) untuk mendeteksi pergeseran lambat yang bisa menjadi pemicu gempa dahsyat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyoroti dua zona megathrust yang masih dalam kondisi seismic gap, yaitu Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut. Kedua zona ini belum melepaskan energi besar sejak ratusan tahun lalu, masing-masing sejak 1757 dan 1797.
Berikut daftar 14 zona megathrust berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, beserta potensi magnitudo maksimalnya:
- Megathrust Aceh-Andaman: M 9,2
- Megathrust Nias-Simeulue: M 8,7
- Megathrust Enggano: M 8,9
- Megathrust Mentawai-Pagai: M 8,9
- Megathrust Mentawai-Siberut: M 8,9
- Megathrust Selat Sunda: M 8,7
- Megathrust Jawa Barat: M 8,8
- Megathrust Jawa Tengah-Timur: M 9,1
- Megathrust Bali-Lombok: M 8,5
- Megathrust Flores Back Arc Thrust: M 8,0
- Megathrust Sulawesi Utara: M 8,5
- Megathrust Maluku Utara: M 8,5
- Megathrust Papua Utara: M 8,8
- Megathrust Filipina Tengah: M 8,1
Guru Besar ITB dan Anggota AIPI, Iswandi Imran, menjelaskan bahwa penambahan zona ini bukan hanya perubahan administratif, melainkan hasil pemutakhiran data geologi dan riset tektonik terbaru. “Kontur bahaya lebih rapat menandakan peningkatan risiko di daerah-daerah tertentu,” katanya.
Para ahli menegaskan bahwa meski potensi gempa megathrust tinggi, waktu terjadinya tidak dapat diprediksi secara pasti. Namun, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan, seperti membangun infrastruktur tahan gempa dan memahami jalur evakuasi tsunami.
Peringatan dari ahli Jepang ini menjadi pengingat bahwa Indonesia, sebagai negara di Cincin Api Pasifik, harus terus memperkuat sistem mitigasi bencana untuk mengurangi dampak korban jiwa dan kerugian materi jika gempa besar terjadi.
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews, #itimeterkini, #itimepagi, #itimetv, #itimeberita, #itimemedia, #itimeindonesia, #itimeasia, #itimenusantara, #itimeprovinsi, #itimewaktu, #itimevidio, #itimefilm, #itimetrendi
