Itime. Jakarta, 2 Januari 2026 – Fenomena relokasi pabrik kembali mencuat di akhir 2025. Beberapa perusahaan manufaktur besar, terutama di sektor alas kaki dan garmen yang memproduksi untuk merek internasional seperti Nike dan Adidas, memindahkan operasi produksinya dari kawasan barat Jawa, seperti Tangerang dan Banten, ke wilayah tengah Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah (Jateng). Alasan utama: mencari biaya tenaga kerja yang lebih rendah.
Menurut Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Rizky Aditya Wijaya, relokasi ini dilakukan untuk menekan biaya operasional yang semakin tinggi di wilayah dengan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) mahal. “Mereka pindah ke daerah tengah yang upahnya lebih murah, jauh lebih murah,” ujar Rizky pada Oktober 2025 lalu.
Salah satu contoh nyata adalah pabrik-pabrik pemasok Nike dan Adidas di Tangerang yang hengkang ke Cirebon, Brebes, Pekalongan, atau Batang di Jateng. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menyebut fenomena ini sebagai strategi pengusaha untuk menghindari kenaikan upah minimum yang signifikan di kawasan Jabodetabek.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan tidak mempermasalahkan relokasi selama tetap di wilayah Indonesia dan tidak mengurangi kapasitas produksi secara keseluruhan. “Selama relokasi itu tetap di NKRI dan tidak mengurangi jumlah tenaga kerja, kami tidak punya masalah,” katanya pada akhir Desember 2025. Ia bahkan menyarankan kepala daerah untuk belajar dari fenomena ini agar bisa menarik lebih banyak investasi.
Tren ini bukan hal baru. Sejak beberapa tahun terakhir, Jateng menjadi magnet relokasi karena UMK-nya termasuk yang terendah di Indonesia. Data menunjukkan puluhan hingga ratusan pabrik telah berpindah ke sana, terutama di sektor padat karya seperti sepatu dan tekstil. Namun, dampaknya beragam: di satu sisi, menciptakan lapangan kerja baru di Jateng; di sisi lain, menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) di daerah asal seperti Tangerang.
Secara global, relokasi pabrik ke negara atau wilayah berupah murah juga terus terjadi, dipicu perang dagang AS-China dan kenaikan biaya di negara asal. Meski Vietnam sering menjadi tujuan utama, Indonesia—khususnya Jateng—masih kompetitif untuk industri tertentu.
Para ekonom menilai, kesenjangan upah antardaerah perlu diatasi agar pemerataan ekonomi tercapai. Jika tidak, “perburuan upah murah” ini bisa terus berulang, memengaruhi stabilitas tenaga kerja di berbagai wilayah.
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews, #itimeterkini, #itimepagi, #itimetv, #itimeberita, #itimemedia, #itimeindonesia, #itimeasia, #itimenusantara, #itimeprovinsi, #itimewaktu, #itimevidio, #itimefilm, #itimetrendi
