Itime. Boyolali, 3 Januari 2026 – Mimpi mempercantik “wajah” kota Boyolali melalui revitalisasi kawasan Simpang Lima kini terhambat. Proyek ambisius senilai hampir Rp22 miliar yang diharapkan menjadikan Jalan Pandanaran mirip Malioboro Yogyakarta ini resmi molor dari jadwal kontrak yang berakhir 30 Desember 2025.
Hingga akhir tahun lalu, progres pengerjaan dari Monumen Susu Tumpah hingga bundaran Simpang Lima hanya mencapai 95,4 persen. Akibatnya, kontraktor pelaksana PT Pollung Karya Abadi kini dibayangi denda keterlambatan sebesar Rp21,5 juta per hari – angka yang dihitung dari satu per seribu nilai kontrak sesuai aturan standar. 3 “LARGE”
Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Boyolali, Joko Prasetyo, mengonfirmasi keterlambatan ini. “Progres belum 100 persen saat kontrak berakhir. Denda akan diterapkan sesuai ketentuan, dengan toleransi maksimal 50 hari kalender,” katanya. Jika melebihi batas itu, sanksi lebih berat seperti pemutusan kontrak bisa diberlakukan.
Proyek ini bukan sekadar perbaikan jalan biasa. Dirancang untuk mengubah pusat kota Boyolali menjadi lebih modern dan ramah pejalan kaki, meliputi:
- Pembangunan pedestrian lebar ala Malioboro dengan trotoar dipangkas ketinggiannya.
- Terowongan penyeberangan bawah tanah sepanjang 26 meter untuk akses aman ke bundaran.
- Pengaspalan ulang jalan, perbaikan drainase.
- Pemasangan ratusan lampu artistik dan elemen estetik untuk membuat kawasan gemerlap di malam hari. 2 “LARGE” 4 “LARGE”
Namun, perjalanan proyek ini penuh drama. Sejak dimulai pertengahan September 2025 dengan masa kerja 110 hari, progres sering tertinggal:
- Oktober 2025: Deviasi minus 8-8,5%.
- November 2025: Masih minus sekitar 9,5%.
- Desember 2025: Sempat minus hingga 17,9%, meski dikejar tapi tak tuntas.
Kendala utama? Koordinasi dengan instansi lain yang mengelola utilitas bawah tanah. Galian proyek sering bentur pipa air PDAM, kabel Telkom, jaringan listrik PLN, hingga papan reklame milik BKD dan DLH. Ini menyebabkan penundaan berulang, ditambah keterlambatan pasokan material fabrikasi.
Komisi III DPRD Boyolali bahkan turun sidak, memanggil DPUPR, dan memfasilitasi pertemuan lintas instansi. Kejaksaan Negeri Boyolali pun mengawasi ketat, mendorong penambahan tenaga kerja dan percepatan. 0 “LARGE” 5 “LARGE” 1 “LARGE”
Kini, masyarakat Boyolali menantikan kapan “Malioboro-nya Boyolali” ini benar-benar rampung. Dampak kemacetan dan debu proyek sudah cukup lama dirasakan, terutama di musim libur Nataru lalu. DPUPR berjanji terus mendorong kontraktor agar segera menyelesaikan sisa pekerjaan.
Apakah denda jutaan per hari ini cukup jadi “cambuk” untuk mempercepat? Kita tunggu kelanjutannya!
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews, #itimeterkini, #itimepagi, #itimetv, #itimeberita, #itimemedia, #itimeindonesia, #itimeasia, #itimenusantara, #itimeprovinsi, #itimewaktu, #itimevidio, #itimefilm, #itimetrendi
