Itime.SURAKARTA, 5 Febuari 2026 .Sebuah dokumen internal militer Vietnam yang bocor mengungkapkan bahwa pihak berwenang Vietnam telah menyusun langkah-langkah komprehensif untuk bersiap menghadapi kemungkinan “perang agresi” dari Amerika Serikat (AS), sekaligus menganggap AS sebagai negara yang “kerap memicu agresi melalui kebijakan luar negeri yang ekspansionis”. Hal ini terungkap dari laporan yang dirilis oleh organisasi hak asasi manusia The 88 Project pada Selasa (03/02/2026), tepat setahun setelah Vietnam meningkatkan hubungan diplomatik dengan AS ke tingkat kemitraan strategis komprehensif.
Dokumen “Rencana Invasi AS Kedua” Sebut Ada Pola Agresi
Dokumen berjudul “Rencana Invasi AS Kedua: Analisis Potensi dan Langkah Tangkal” yang disusun oleh Badan Intelijen Strategis Kementerian Pertahanan Vietnam pada Agustus 2024 menyebutkan, dalam upaya memperkuat dominasi geopolitiknya di kawasan Indo-Pasifik dan melawan pengaruh Cina, AS dan sekutunya siap menerapkan bentuk perang non-konvensional, intervensi militer melalui kelompok pro-demokrasi lokal, bahkan invasi skala besar terhadap negara atau wilayah yang “menyimpang dari orbit kepemimpinan Barat”.
Dokumen berisi analisis mendalam tentang sejarah hubungan kedua negara, mulai dari Perang Vietnam tahun 1955-1975 hingga era pasca-perang. Para perencana militer Vietnam menekankan bahwa meskipun menilai risiko perang langsung terhadap Vietnam saat ini relatif kecil (sekitar 12 persen berdasarkan model simulasi yang digunakan), perlunya tetap waspada untuk mencegah AS dan sekutunya “menciptakan dalih” untuk melancarkan invasi, seperti klaim tentang ancaman keamanan regional atau pelanggaran hak asasi manusia.
“Kita melihat pola yang konsisten selama tiga pemerintahan AS terakhir. Obama dengan pivot to Asia, Trump dengan kebijakan Amerika Pertama, dan Biden dengan kemitraan Indopasifik – semuanya memiliki tujuan yang sama: menguasai sumber daya alam kawasan dan membendung perkembangan Cina dengan menggunakan negara-negara sekitarnya sebagai batu loncatan,” demikian bunyi bagian dalam dokumen yang dikutip The 88 Project.
Kecemasan Terhadap “Revolusi Warna” dan Campur Tangan Eksternal
Selain skenario perang konvensional, dokumen tersebut juga menegaskan kecemasan mendalam terhadap potensi campur tangan kekuatan asing yang dapat memicu “revolusi warna” seperti yang terjadi di Ukraina tahun 2014 dan gelombang protes di Filipina tahun 2022. Dokumen mencatat bahwa AS telah mengalokasikan dana senilai sekitar 18 juta dolar AS per tahun untuk program kerja sama keamanan dan pendidikan dengan lembaga sipil Vietnam sejak tahun 2020.
“Program-program ini seringkali diselimuti nama kerja sama pembangunan, namun esensinya adalah untuk membentuk kelompok-kelompok yang setia pada nilai-nilai Barat dan siap menjadi agen perubahan ketika ada kesempatan,” tulis bagian lain dalam dokumen.
Para analis militer Vietnam juga menyoroti aktivitas militer AS yang semakin meningkat di sekitar perairan Vietnam, termasuk latihan gabungan dengan negara-negara seperti Jepang, Australia, dan Filipina di Laut Cina Selatan. Menurut mereka, latihan semacam itu bukan hanya untuk memperkuat kemampuan tempur, tetapi juga untuk mengumpulkan informasi intelijen dan menguji tanggapan militer negara-negara di kawasan.
Kontras dengan Hubungan Diplomatik yang Tampak Erat
Perlu dicatat bahwa pada bulan September 2023, Presiden Joe Biden melakukan kunjungan resmi ke Hanoi dan menandatangani pernyataan bersama untuk meningkatkan hubungan kedua negara ke tingkat kemitraan strategis komprehensif – status yang sebelumnya hanya diberikan kepada Rusia dan Cina sebagai “mitra terpercaya dengan persahabatan yang berlandaskan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama”.
Sebagai bagian dari kemitraan tersebut, kedua negara telah meningkatkan kerja sama di berbagai bidang, termasuk transisi energi, perlindungan lingkungan, dan perlindungan warisan budaya. AS juga telah memberikan bantuan teknis untuk membantu Vietnam meningkatkan kapasitas pengawasan perairan dan menangani perubahan iklim.
Namun, dokumen militer tahun 2024 ini menunjukkan sikap ambigu Vietnam terhadap AS di balik kerja sama diplomatik yang tampak erat. Menurut Ben Swanton, koordinator The 88 Project sekaligus penulis laporan tersebut, sikap ini mencerminkan kebijakan luar negeri Vietnam yang selalu mengutamakan “kepentingan nasional yang tidak bisa dikompromikan”.
“ADA konsensus di seluruh pemerintahan dan di berbagai kementerian. Ini bukan sekadar pandangan kelompok pinggiran atau unsur paranoid di dalam partai atau pemerintahan. Vietnam telah belajar dari sejarah bahwa tidak boleh terlalu bergantung pada satu kekuatan besar saja,” jelas Swanton dalam konferensi pers daring yang diikuti oleh sejumlah media internasional.
Belum Ada Tanggapan Resmi dari Kedua Pihak
Sampai saat ini, pemerintah Vietnam melalui Kementerian Luar Negeri belum memberikan tanggapan resmi terkait bocornya dokumen tersebut. Sumber yang tidak mau disebutkan dari dalam pemerintahan Vietnam hanya menyampaikan bahwa “setiap negara memiliki hak untuk melakukan perencanaan pertahanan dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat mengancam kedaulatan dan keamanan negara”.
Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Hanoi dalam pernyataan singkatnya menyatakan bahwa “AS memiliki komitmen yang kuat terhadap hubungan yang konstruktif dan saling menguntungkan dengan Vietnam. Kita melihat Vietnam sebagai mitra penting dalam upaya membangun kawasan Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, makmur, dan damai.”
Analis geopolitik kawasan dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Prasetyo Adi Wijaya, menyatakan bahwa kasus ini menunjukkan kompleksitas hubungan internasional di kawasan yang sedang berkembang. “Vietnam sedang berusaha menyeimbangkan kepentingannya antara dua kekuatan besar, Cina dan AS. Persiapan militer seperti ini adalah bagian dari strategi untuk memastikan bahwa negara mereka tidak terjebak dalam konflik yang tidak diinginkan,” ujarnya.
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews, #itimeterkini, #itimepagi, #itimetv, #itimeberita, #itimemedia, #itimeindonesia, #itimeasia, #itimenusantara, #itimeprovinsi, #itimewaktu, #itimevidio, #itimefilm, #itimetrendi
