Itime. Kebumen – Narasi yang beredar dan berupaya mengaitkan seorang pendamping warga sebagai aktor utama di balik polemik usaha pengeringan bulu ayam di Desa Kaibonpetangkuran patut diduga sebagai bentuk penyederhanaan masalah yang berlebihan, bahkan cenderung menggiring opini publik.
Menurut sumber yang berinisial “S” menyampaikan, bahwa permasalahan tersebut ada upaya untuk penggeseran substansi persoalan dari dampak lingkungan seolah-olah malah menjadi konflik pribadi.
“Saya merasa sangat disayangkan bahwa ada upaya untuk menggeser substansi persoalan dari dampak lingkungan menjadi konflik individu,” terang “S” seorang pendamping warga, Sabtu (14/02)2026).
Lanjut “S” juga menegaskan bahwa, bahwa dirinya tidak pernah ada motif terkait kepentingan pribadi dalam permasalahan tersebut. Ia hanya membantu warga Desa Kaibo petangkuran untuk menyuarakan aspirasinya mereka terkait dampak lingkungan yang dirasakan.
“Saya ingin menegaskan bahwa saya tidak pernah memiliki motif kepentingan pribadi dalam polemik ini. Saya hanya ingin membantu warga untuk menyuarakan aspirasi mereka tentang dampak lingkungan yang dirasakan,” tegasnya.
Menurut “S”, perubahan sikap warga dalam forum musyawarah tidak dapat disederhanakan sebagai hasil skenario atau pengondisian terkait permasalahan tersebut.
“Masyarakat memiliki hak untuk menyatakan sikapnya secara bebas dan tidak dapat dipaksa untuk menerima sesuatu yang tidak mereka inginkan,” katanya.
Lalu “S” menambahkan, bahwa masyarakat yang terkena dampak hanya ingin mencari solusi yang adil berimbang dan tidak memihak dan adil.
“Kami hanya ingin mencari solusi yang adil dan seimbang untuk semua pihak, bukan hanya untuk kepentingan individu tertentu,” imbuhnya.
“S” juga membeberkan bahwa dirinya telah berusaha untuk memfasilitasi dialog antara warga dan pihak perusahaan, namun upaya tersebut tidak berhasil karena adanya perbedaan pendapat yang signifikan.
“Saya tidak ingin melihat konflik ini berlanjut dan berharap agar semua pihak dapat duduk bersama untuk mencari solusi yang terbaik,” ujarnya.
Menurut “S” terkait kasus ini masih dalam proses penyelidikan dan belum ada bukti yang menyatakan adanya motif kepentingan pribadi.
“Kami berharap agar masyarakat tidak terprovokasi oleh narasi yang tidak berimbang dan berpotensi menciptakan kesimpulan prematur. Warga hanya ingin mencari kebenaran dan keadilan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk masyarakat Desa Kaibonpetangkuran,” ungkapnya.
“S” juga mengimbau kepada semua pihak untuk tidak membuat pernyataan yang tidak berdasar dan dapat memicu konflik.
“Mari kita mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak, bukan hanya untuk kepentingan individu tertentu,” pungkasnya.
(Tim)

