Itime. Mandailing Natal – Pagi belum benar-benar terang ketika ponsel itu bergetar. Sebuah pesan singkat masuk, memberi kabar tentang peristiwa yang harus segera diliput. Tanpa banyak tanya, seorang wartawan meraih tasnya, memasukkan buku catatan kecil, perekam suara, dan bergegas menuju lokasi.
Begitulah hari-hari itu dimulai—bukan dengan hitung-hitungan untung rugi, bukan pula dengan bayangan tumpukan rupiah. Melainkan dengan satu tekad sederhana: mencari kebenaran dan menyampaikannya kepada publik.
Profesi wartawan sering kali dipandang sebelah mata. Ada yang mengira pekerjaan ini menjanjikan popularitas, ada pula yang menganggapnya sekadar perantara cerita. Padahal di balik setiap berita yang terbit, ada waktu yang dikorbankan, ada tenaga yang dihabiskan, bahkan ada risiko yang tak jarang mengintai.
Wartawan bukan profesi untuk mengejar kekayaan. Jika tujuan utamanya adalah harta, mungkin banyak jalan lain yang lebih cepat dan lebih menjanjikan. Namun bagi mereka yang bertahan di dunia jurnalistik, ada sesuatu yang lebih bernilai daripada sekadar materi: makna.
Makna ketika sebuah tulisan mampu membuka mata publik. Makna saat suara warga kecil yang nyaris tak terdengar akhirnya mendapat ruang. Makna ketika sebuah kritik membuahkan perubahan, sekecil apa pun itu.
Di lapangan, wartawan belajar tentang keseimbangan hidup. Antara idealisme dan realitas. Antara tekanan deadline dan tanggung jawab moral. Antara menjaga hubungan dengan narasumber dan tetap berdiri di atas independensi.
Tak jarang mereka pulang larut malam, melewatkan waktu bersama keluarga demi memastikan fakta yang disajikan akurat. Ada kalanya mereka menerima kritik, bahkan cibiran. Namun di tengah semua itu, ada kepuasan batin yang sulit diukur dengan angka.
Menjadi wartawan berarti berdamai dengan kesederhanaan. Bekerja dengan hati, berjalan dengan nurani. Mereka memahami bahwa keberhasilan bukan selalu tentang besarnya penghasilan, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang bisa diberikan.
Di balik berita yang kita baca setiap hari, ada dedikasi yang tak terlihat. Ada perjuangan yang tak selalu diketahui. Dan di sanalah letak maknanya—bahwa profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan.
Karena pada akhirnya, wartawan tidak sedang mengejar harta. Mereka sedang menjaga keseimbangan hidup, antara pengabdian dan kemanusiaan.
(tim).
