
Itime.id — 12 November 2025 Nama Sarwo Edhie Wibowo tidak bisa dilepaskan dari lembaran sejarah bangsa Indonesia. Sosok yang lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 7 Juli 1925 ini dikenal sebagai perwira militer yang berintegritas tinggi, disiplin, dan memiliki semangat kebangsaan yang kokoh. Ia bukan hanya seorang tentara, tetapi juga seorang pemimpin yang mengutamakan tanggung jawab di atas kepentingan pribadi.
Keberanian dan dedikasinya pada negara membuat pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sarwo Edhie Wibowo pada tahun 2012. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas jasa besar yang telah ia ukir dalam perjalanan panjang menjaga keutuhan NKRI.
Sarwo Edhie menempuh pendidikan militernya di masa awal kemerdekaan. Setelah menamatkan pendidikan di HIS dan MULO (setingkat sekolah menengah), ia bergabung dalam perjuangan bersenjata melawan penjajahan. Naluri kepemimpinannya tampak sejak muda. Disiplin dan ketegasan menjadi ciri khas yang melekat sepanjang hidupnya.
Pada era revolusi, Sarwo Edhie bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dalam berbagai pertempuran mempertahankan kemerdekaan, namanya dikenal sebagai komandan yang tegas namun berjiwa kemanusiaan.
Puncak kiprah Sarwo Edhie terjadi pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), ia ditugaskan untuk memulihkan keamanan dan menumpas gerakan pemberontakan yang mengancam stabilitas negara.
Dengan ketegasan dan strategi militernya, RPKAD di bawah komandonya berhasil memulihkan situasi nasional dalam waktu singkat. Tindakan cepat dan tegas itulah yang membuat Sarwo Edhie dikenal sebagai simbol keteguhan seorang prajurit yang mendahulukan bangsa di atas segalanya.
Namun, di balik ketegasannya, banyak rekannya mengenang Sarwo Edhie sebagai sosok yang sederhana, disiplin, dan tidak haus kekuasaan. Ia dikenal tidak segan menegur bahkan kepada pejabat tinggi yang melenceng dari tanggung jawab moral dan nasionalisme.
Setelah peristiwa 1965, Sarwo Edhie dipercaya mengemban berbagai jabatan penting, mulai dari Komandan Akademi Militer Nasional (AMN), Duta Besar Indonesia di Korea Selatan, hingga Anggota DPR/MPR.
Dalam setiap peran yang diembannya, Sarwo Edhie selalu menonjolkan prinsip jujur, bersih, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Ia kerap menolak praktek korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan yang marak di masa itu.
Banyak generasi muda perwira TNI yang menjadikannya sebagai teladan. “Bagi Sarwo Edhie, menjadi prajurit berarti menjaga kehormatan bangsa, bukan mencari kehormatan pribadi,” ungkap beberapa mantan anak buahnya dalam berbagai kesempatan mengenang sosok sang komandan.
Sarwo Edhie Wibowo wafat pada 9 November 1989, meninggalkan warisan nilai-nilai kejujuran dan nasionalisme yang tetap hidup hingga kini.
Ia juga dikenal sebagai ayah dari Ani Yudhoyono, istri Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun, di luar hubungan itu, nama Sarwo Edhie berdiri dengan kehormatan tersendiri sebagai tokoh yang mengorbankan banyak hal demi kepentingan bangsa.
Kini, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenang Sarwo Edhie sebagai sosok militer legendaris, tetapi juga meneladani semangat perjuangan, kedisiplinan, dan kecintaan pada tanah air yang ia tanamkan.
Perjalanan hidup Sarwo Edhie Wibowo mengajarkan bahwa menjadi pahlawan bukan hanya karena mengangkat senjata, tetapi juga karena keberanian menjaga nilai-nilai luhur bangsa. Ia meninggalkan pesan kuat:
“Negara ini akan kokoh bila warganya berani berkata benar, bekerja jujur, dan bertindak tegas untuk kebaikan bersama.”
Nama Sarwo Edhie Wibowo akan selalu hidup dalam sejarah bangsa Indonesia — sebagai prajurit sejati, pemimpin berkarakter, dan pahlawan nasional yang layak dikenang sepanjang masa.
