I Time. Id Bangkalan, Madura –12 Juli 2026 Di tengah musim kemarau yang melanda berbagai wilayah di Pulau Madura, Desa Jangkar, Kabupaten Bangkalan, justru menjadi perhatian masyarakat karena kondisi alamnya yang dinilai cukup berbeda. Saat sejumlah daerah mengalami kekeringan dan berkurangnya pasokan air, desa ini masih terlihat hijau dengan aktivitas pertanian yang tetap berjalan.
Kondisi tersebut membuat Desa Jangkar kerap dijuluki sebagai desa yang “anomali” saat musim kemarau. Julukan itu muncul karena ketersediaan air di beberapa titik masih mampu menopang kebutuhan warga, baik untuk keperluan sehari-hari maupun mengairi lahan pertanian. Tak sedikit warga dari desa sekitar yang mengaku kagum melihat kondisi tersebut.
Selain faktor sumber air yang masih tersedia, masyarakat Desa Jangkar juga dikenal menjaga lingkungan dan memanfaatkan air secara bijaksana. Kebiasaan tersebut dinilai turut membantu mempertahankan produktivitas pertanian meski curah hujan sedang rendah.
Keunikan Desa Jangkar menjadi inspirasi bagi banyak desa lain di Madura untuk terus memperkuat pengelolaan sumber daya air, menjaga kelestarian lingkungan, serta mengembangkan pertanian yang lebih tangguh menghadapi perubahan musim.
Dengan kondisi alam yang tetap asri di tengah kemarau, Desa Jangkar semakin dikenal sebagai salah satu desa yang memiliki daya tarik tersendiri. Julukan “membuat desa lain cemburu” lebih menggambarkan kekaguman masyarakat terhadap kemampuan desa ini mempertahankan keseimbangan alam dan ketersediaan air di saat banyak wilayah lain menghadapi tantangan kekeringan.
(Reina)
