iTime.id – 18 Juli 2026 .Tepat dua dekade setelah tragedi tsunami Pangandaran, peristiwa gempa bumi yang disusul gelombang tsunami di pesisir selatan Pulau Jawa masih membekas dalam ingatan masyarakat. Banyak warga yang selamat mengaku getaran gempa saat itu terasa seperti truk besar melintas di depan rumah sebelum gelombang laut menerjang kawasan pesisir.
Gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 yang terjadi pada 17 Juli 2006 memicu tsunami setinggi sekitar 4 hingga 8 meter yang menyapu wilayah pesisir selatan Jawa, mulai dari Pangandaran, sebagian pesisir Jawa Tengah, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta. Ratusan orang meninggal dunia, ribuan lainnya mengalami luka-luka dan kehilangan tempat tinggal akibat dahsyatnya bencana tersebut.
Sejumlah penyintas menceritakan bahwa sebelum tsunami datang, guncangan gempa tidak terlalu kuat, namun terasa nyata seperti ada kendaraan berat atau truk besar yang melintas. Karena guncangan tidak berlangsung sangat keras, sebagian warga tidak segera menyadari bahwa gempa tersebut berpotensi memicu tsunami.
Gelombang tsunami kemudian datang hanya beberapa saat setelah gempa terjadi dan menghantam permukiman, kawasan wisata, serta fasilitas umum di sepanjang garis pantai. Banyak bangunan rusak berat, sementara aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh dalam waktu yang cukup lama.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadikan peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran sebagai momentum untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempa dan tsunami. Penguatan sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, serta latihan evakuasi dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban apabila bencana serupa kembali terjadi.
Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir diimbau agar selalu mengenali tanda-tanda alam, seperti gempa yang dirasakan kuat atau cukup lama, surutnya air laut secara tiba-tiba, maupun peringatan resmi dari BMKG. Kesadaran dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menyelamatkan jiwa ketika bencana datang tanpa diduga.
(Reina)
