I Time.id 14 November 2025.– Bulutangkis masih menjadi cabang olahraga yang paling dekat dengan hati masyarakat Indonesia. Setelah melewati berbagai dinamika sepanjang musim kompetisi 2025, para atlet nasional kini menghadapi fase penentuan: ada yang sedang memulihkan diri, ada yang masuk tahap evaluasi, dan ada pula yang tengah mematangkan langkah menuju level tertinggi dunia. Kisah dua pilar utama — Gregoria Mariska Tunjung dan Jonatan Christie — menjadi representasi lengkap tentang bagaimana perjalanan bulutangkis Indonesia bergerak saat ini: penuh tantangan, tetapi juga penuh harapan.

GREGORIA MARISKA TUNJUNG: Melawan Vertigo, Menata Ulang Masa Depan
Tahun 2025 menjadi titik balik bagi Gregoria. Di tengah performa yang mulai naik dan mental tanding yang semakin matang, ia justru menghadapi masalah kesehatan yang bukan hanya mengganggu tetapi juga mengancam kariernya. Gregoria mengalami vertigo dan migrain berulang sejak Maret 2025 — sebuah kondisi yang memaksanya beberapa kali ditangani tim medis saat masa latihan.
Kambuhnya vertigo bukan sekadar pusing biasa. Dalam sebuah wawancara, Gregoria menggambarkan bahwa ketika serangan datang, ia kehilangan keseimbangan, muntah tanpa henti, dan tidak mampu berdiri selama beberapa jam. Dampaknya terasa langsung pada aktivitas latihan maupun rencana turnamen. PBSI bahkan memutuskan menarik dirinya dari Indonesia Open 2025, salah satu turnamen terbesar yang sebenarnya menjadi favorit pemain dan fan.
Meski demikian, Gregoria menegaskan bahwa kondisi ini tidak menyurutkan semangatnya. Di masa pemulihan, ia membuat sejumlah perubahan signifikan: pola latihan yang disesuaikan, pemulihan yang lebih terpola, serta pendekatan baru dalam hal mental. Ia mengaku mulai melihat latihan bukan lagi sebagai kewajiban, tetapi sebagai ruang untuk menikmati proses.
Dalam persiapannya menuju turnamen Japan Open dan Australia Open 2025, Gregoria tampil dengan aura baru — lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih tenang. Ia tidak menargetkan gelar besar secara instan, tetapi fokus pada fondasi: stabilitas pukulan, kelincahan kaki, dan manajemen stamina, termasuk memastikan vertigo tidak kambuh saat pertandingan berlangsung.
Pelatihnya, Imam Tohari, mengakui bahwa kondisi Gregoria saat ini jauh lebih baik dibanding tiga bulan sebelumnya. “Ia sudah lebih siap, secara fisik dan emosional. Yang terpenting, dia sudah bisa latihan intens kembali tanpa gangguan kesehatan.”
Perubahan-perubahan ini mengisyaratkan satu hal: Gregoria tidak hanya sedang kembali ke lapangan, tetapi sedang membangun ulang dirinya sebagai atlet top dunia. Dan jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin ia kembali menantang dominasi tunggal putri Asia di tahun-tahun mendatang.
JONATAN CHRISTIE: Evaluasi Besar dari Seorang Juara
Sementara Gregoria berjibaku dengan kesehatan, perjalanan Jonatan Christie lebih bergulat dengan konsistensi performa. Di awal 2025, Jojo tampil cukup solid. Ia melewati beberapa pertandingan awal Kejuaraan Dunia dengan kemenangan meyakinkan, termasuk mengalahkan Matthias Kicklitz dari Jerman dengan skor telak.
Namun, seiring bergulirnya musim, performanya terlihat fluktuatif. Puncak kekecewaan terjadi di Indonesia Open 2025, ketika ia kalah dari Lee Cheuk Yiu setelah memimpin pada gim pertama. Kekalahan ini terasa lebih menekan karena turnamen tersebut berlangsung di tanah sendiri, di depan ribuan pendukung yang menanti kebangkitan sang juara bertahan.
Jonatan mengakui bahwa tekanan sebagai juara bertahan cukup memengaruhi mental bertandingnya. Ia menyebut bahwa tahun lalu ia datang tanpa ekspektasi, sedangkan tahun ini — dengan gelar besar di belakang namanya — beban terasa dua kali lipat. Meski begitu, ia menegaskan bahwa pengalaman ini justru menjadi pelajaran penting.
Dalam beberapa bulan terakhir, Jonatan mulai fokus pada dua aspek utama:
1. Adaptasi teknis
Shuttlecock yang lebih berat, tempo rally pemain Asia Timur yang semakin cepat, serta perubahan gaya main para pesaing menjadi tantangan baru yang harus ia jawab. Ia dan pelatih kini memperbanyak variasi stroke, memperhalus transisi dari defense ke attack, dan meningkatkan kecepatan langkah.
2. Keseimbangan mental dan ritme turnamen
Jonatan juga menekankan pentingnya kembali menemukan “rasa” pukulan, sesuatu yang menurutnya hilang di beberapa laga. Ia menyebut bahwa melawan pemain-pemain yang konsisten dan cepat menuntut kestabilan mental di tiap poin.
Meski tekanannya besar, tekad Jonatan tetap solid. Ia percaya bahwa fase naik-turun seperti ini wajar bagi atlet yang bertahan lama di level elite. Baginya, proses menemukan kembali konsistensi adalah hal yang sedang ia perjuangkan — bukan alasan untuk menyerah.
APA ARTINYA BAGI MASA DEPAN BULUTANGKIS INDONESIA?
Perjalanan Gregoria dan Jonatan menggambarkan konteks yang lebih luas:
1. Perlunya manajemen kesehatan atlet lebih serius
Kasus vertigo Gregoria menjadi alarm bagi PBSI dan dunia olahraga Indonesia. Atlet bukan robot — mereka membutuhkan dukungan medis, pemantauan intensif, dan program pemulihan yang modern.
2. Kompetisi global semakin ketat
Pemain Asia Timur dan Eropa kini tampil jauh lebih cepat, lebih agresif, dan lebih matang secara strategi. Indonesia tidak lagi berada di zona nyaman.
3. Regenerasi harus berjalan berdampingan dengan pembinaan atlet senior
Gregoria dan Jonatan adalah pilar penting. Namun kebutuhan akan generasi baru juga tidak bisa diabaikan — sebuah keseimbangan yang menjadi PR besar PBSI.
PREDIKSI & PROYEKSI 12 BULAN KE DEPAN
- Gregoria berpeluang besar kembali menembus semifinal turnamen Super 750 atau bahkan 1000 jika kondisi kesehatannya terus stabil. Mentalnya terlihat lebih kokoh, dan itu modal penting di sektor tunggal putri.
- Jonatan diprediksi kembali meraih gelar jika ia menemukan stabilitas performa di 3–5 turnamen berturut-turut. Pengalaman dan tekniknya sudah cukup matang — tinggal konsistensi dan keberanian di poin-poin kritis.
- Untuk Indonesia, tantangan terbesar adalah menciptakan tim yang lengkap dan merata, bukan hanya bergantung pada satu atau dua pemain.
Kisah terbaru dua bintang nasional ini memperlihatkan satu hal: bulutangkis Indonesia sedang bergerak, berkembang, dan terus berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Ada sakit, ada tekanan, ada evaluasi — tetapi juga ada perbaikan, pemulihan, dan harapan besar.
Selama dukungan publik tetap kuat, dan PBSI melakukan langkah pembinaan yang tepat, tidak ada alasan Indonesia tidak kembali menjadi kekuatan dominan dunia.
Reina
