ITime.id .Jakarta – 31Juli 2026 .Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu fokus utama pemerintah dan Bank Indonesia (BI) di tengah dinamika ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Untuk menjaga daya tahan rupiah, BI menerapkan bauran kebijakan moneter yang dipadukan dengan berbagai instrumen makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran.
Bauran kebijakan moneter merupakan kombinasi berbagai langkah yang dilakukan bank sentral, seperti penetapan suku bunga acuan, intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, hingga penguatan koordinasi dengan pemerintah. Tujuannya adalah menjaga inflasi tetap terkendali, menopang pertumbuhan ekonomi, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dalam praktiknya, kebijakan suku bunga menjadi instrumen utama. Ketika tekanan terhadap rupiah meningkat akibat penguatan dolar AS atau gejolak pasar global, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sehingga aliran modal asing berpotensi kembali masuk ke Indonesia. Langkah tersebut dinilai mampu membantu menopang nilai tukar rupiah.
Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian dan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing.
Pengamat ekonomi menilai bauran kebijakan moneter cukup efektif dalam meredam gejolak jangka pendek. Namun, efektivitasnya juga sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal seperti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, harga komoditas global, serta sentimen investor terhadap pasar negara berkembang.
Di sisi lain, penguatan rupiah tidak dapat hanya bergantung pada kebijakan moneter. Diperlukan dukungan kebijakan fiskal yang sehat, peningkatan investasi, penguatan ekspor, serta perbaikan fundamental ekonomi nasional agar nilai tukar rupiah lebih stabil dalam jangka panjang.
Koordinasi yang erat antara Bank Indonesia, pemerintah, dan otoritas sektor keuangan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan bauran kebijakan yang tepat dan fundamental ekonomi yang kuat, rupiah diharapkan tetap mampu menghadapi tekanan eksternal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.
(Reina)
