ITime. Id.JAWA TIMUR —24 Agustus 2026 . Di tengah perkembangan zaman, sejumlah masyarakat di Jawa Timur masih mempertahankan berbagai tradisi leluhur yang berkaitan dengan alam dan kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah tradisi bertarung sebagai bagian dari ritual memohon turunnya hujan.
Tradisi tersebut dikenal di sejumlah daerah dengan nama dan bentuk pelaksanaan yang berbeda. Dalam pelaksanaannya, dua orang atau kelompok biasanya melakukan pertarungan simbolis yang menjadi bagian dari rangkaian ritual adat.
Meski terlihat seperti pertarungan sungguhan, kegiatan tersebut bukan semata-mata untuk mencari kemenangan. Tradisi ini memiliki makna budaya dan spiritual, yakni sebagai bentuk ikhtiar masyarakat untuk memohon turunnya hujan ketika musim kemarau berlangsung panjang.
Masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut biasanya terlebih dahulu melakukan persiapan dan ritual tertentu. Setelah itu, pertarungan dilaksanakan dengan aturan yang telah disepakati bersama dan diawasi oleh tokoh adat maupun masyarakat setempat.
Darah, luka, atau kemenangan dalam pertarungan bukan menjadi tujuan utama. Yang lebih penting adalah nilai kebersamaan, penghormatan terhadap tradisi leluhur, serta harapan agar alam kembali memberikan keseimbangan dan hujan segera turun.
Tradisi semacam ini juga menjadi gambaran kuatnya hubungan masyarakat Jawa Timur dengan lingkungan. Pada masa lalu, hujan sangat menentukan kehidupan masyarakat agraris karena berkaitan langsung dengan ketersediaan air dan keberhasilan tanaman.
Di tengah modernisasi, keberadaan ritual tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal yang terus menarik perhatian. Selain sebagai warisan leluhur, tradisi ini juga mengandung pesan tentang pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam.
Meski demikian, pelaksanaan tradisi adat tetap perlu memperhatikan keselamatan peserta dan menghormati ketentuan yang berlaku. Nilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat terus diwariskan tanpa menghilangkan aspek keamanan.
Tradisi bertarung untuk memohon hujan akhirnya bukan sekadar tontonan. Di balik aksi yang terlihat keras, tersimpan doa, harapan, gotong royong, dan keyakinan masyarakat bahwa manusia harus tetap menjaga keseimbangan dengan alam.
( Reina)
