ITime.id .JAKARTA – 8 September 2026 Ada kabar menarik bagi putra-putri masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan yang bercita-cita menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pemerintah kini memberikan perhatian lebih besar terhadap peluang masyarakat Dayak pedalaman untuk mengikuti rekrutmen TNI. Kebijakan tersebut muncul karena pemerintah melihat adanya kondisi dan karakteristik masyarakat pedalaman yang tidak selalu sama dengan masyarakat di wilayah perkotaan.
Persoalan geografis, akses pendidikan, fasilitas kesehatan hingga kondisi fisik menjadi sejumlah faktor yang ikut dipertimbangkan.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebelumnya menyampaikan adanya peluang penyesuaian sejumlah persyaratan bagi masyarakat Dayak pedalaman. Salah satu yang menjadi perhatian adalah persyaratan fisik, termasuk tinggi badan.
Namun, penyesuaian tersebut bukan berarti pintu masuk TNI dibuka tanpa seleksi.
Calon prajurit tetap harus mengikuti tahapan seleksi dan memenuhi standar yang ditetapkan, termasuk kesehatan, kemampuan jasmani, mental, kedisiplinan serta persyaratan lainnya.
Tato Adat Tak Semestinya Menghapus Mimpi
Yang juga menarik perhatian adalah persoalan tato tradisional masyarakat Dayak.
Bagi sebagian masyarakat Dayak, tato bukan sekadar hiasan tubuh. Tato dapat menjadi bagian dari tradisi dan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan bahwa tato yang berkaitan dengan adat Dayak bukan otomatis menjadi penghalang untuk menjadi prajurit.
Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi anak-anak muda Dayak yang selama ini mungkin merasa identitas budaya mereka dapat menjadi hambatan ketika ingin mengabdikan diri kepada negara.
Mengapa Anak Pedalaman Dibutuhkan?
Masyarakat yang lahir dan tumbuh di pedalaman memiliki pengalaman langsung mengenai kondisi lingkungan tempat mereka tinggal.
Mereka memahami medan, kehidupan masyarakat, budaya lokal hingga karakter wilayah yang mungkin tidak mudah dipahami oleh orang yang tidak pernah tinggal di kawasan tersebut.
Karena itu, kehadiran putra daerah sebagai prajurit TNI dinilai memiliki nilai strategis.
Selain menjalankan tugas pertahanan negara, mereka dapat menjadi bagian dari jembatan komunikasi antara TNI dan masyarakat setempat.
Kebijakan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kesempatan mengabdi kepada negara tidak semestinya hanya terbuka bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar.
Bukan Karena Suku, Tetapi Karena Kesempatan yang Lebih Adil
Hal yang perlu dipahami, perhatian khusus terhadap masyarakat Dayak pedalaman bukan berarti TNI memberikan keistimewaan tanpa batas berdasarkan suku.
Semangat utamanya adalah memberikan kesempatan yang lebih adil dengan mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat di daerah terpencil.
Setelah memenuhi penyesuaian yang ditetapkan, para calon tetap harus membuktikan kemampuan mereka melalui proses seleksi.
Dengan begitu, yang dicari bukan sekadar identitas sebagai orang Dayak, melainkan putra-putri terbaik yang memiliki semangat, kemampuan dan keteguhan untuk mengabdi kepada Indonesia.
Bagi generasi muda Dayak di pedalaman, kebijakan ini bisa menjadi pesan penting: tinggal jauh dari pusat kota dan memiliki tradisi budaya yang kuat bukan alasan untuk mengubur cita-cita menjadi prajurit.
Kini, kesempatan untuk mengabdi terbuka lebih luas—dengan tetap membawa identitas, adat dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
(Reina)
