ITime.id .Salatiga 8 September 2026 — Ada satu hal yang patut direnungkan di tengah semakin berkembangnya media online dan media sosial: mengapa sebagian masyarakat mulai memandang kehadiran wartawan dengan rasa curiga?
Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan profesi jurnalistik. Justru sebaliknya, pertanyaan ini perlu menjadi bahan introspeksi agar profesi wartawan tetap dihormati dan dipercaya.
Wartawan sesungguhnya memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Ketika ada persoalan publik, masyarakat membutuhkan media untuk menyampaikan fakta. Ketika ada pelayanan yang dianggap belum baik, pers dapat menjadi ruang untuk menyuarakan aspirasi. Ketika sebuah peristiwa terjadi, masyarakat membutuhkan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, perkembangan media sosial belakangan juga memperlihatkan adanya berbagai cerita dan perdebatan mengenai orang-orang yang mengatasnamakan wartawan ketika menjalankan aktivitas di lapangan.
Muncullah berbagai istilah yang kemudian populer di masyarakat, seperti “wartawan Bodrex”, “wartawan solar atau BBM”, “wartawan galian C”, dan berbagai sebutan lainnya.
Istilah tersebut tentu tidak boleh diarahkan kepada seluruh wartawan.
Masih banyak wartawan yang setiap hari bekerja dalam kondisi penuh tantangan, mengejar informasi, melakukan konfirmasi, turun ke lapangan, dan menyusun berita dengan memegang prinsip jurnalistik.
Justru karena masih banyak wartawan profesional itulah, perilaku yang dianggap meresahkan perlu menjadi perhatian bersama.
Jangan Biarkan Oknum Merusak Nama Profesi
Satu tindakan seseorang dapat berdampak panjang terhadap citra sebuah profesi.
Ketika ada orang yang mengaku wartawan kemudian melakukan tindakan yang dianggap tidak sesuai dengan etika jurnalistik, masyarakat terkadang tidak membedakan antara individu tersebut dengan wartawan secara keseluruhan.
Akibatnya, wartawan yang benar-benar bekerja secara profesional ikut terkena dampaknya.
Di sinilah pentingnya perusahaan media melakukan pembinaan, organisasi profesi meningkatkan pendidikan jurnalistik, dan setiap wartawan memahami bahwa KTA hanyalah identitas, bukan tiket untuk melakukan apa saja di lapangan.
Identitas pers seharusnya berjalan bersama dengan tanggung jawab.
Datang untuk Mencari Fakta, Bukan Mencari Kesempatan
Seorang wartawan tentu mempunyai hak untuk mencari informasi dan melakukan konfirmasi terhadap persoalan yang menyangkut kepentingan publik.
Tetapi cara mendapatkan informasi juga menjadi bagian penting dari profesionalisme.
Ketika mendatangi sekolah, kantor pemerintahan, perusahaan, tempat usaha, maupun lingkungan masyarakat, wartawan sebaiknya menjelaskan identitas dan tujuan peliputan dengan jelas.
Jika ada persoalan yang hendak diberitakan, berikan kesempatan kepada pihak yang bersangkutan untuk memberikan penjelasan.
Jika informasi belum lengkap, lakukan verifikasi.
Jika terdapat tudingan, jangan langsung menjadikannya sebagai kesimpulan.
Karena berita bukan sekadar tulisan. Berita adalah tanggung jawab.
Masyarakat Tidak Anti-Wartawan
Mungkin ada masyarakat yang merasa tidak nyaman ketika didatangi wartawan. Tetapi jangan pula buru-buru menyimpulkan bahwa masyarakat membenci pers.
Bisa jadi masyarakat hanya menginginkan kejelasan.
Siapa yang datang?
Dari media mana?
Apa tujuan peliputannya?
Apa yang hendak dikonfirmasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat wajar.
Sebaliknya, wartawan juga memiliki hak untuk mendapatkan informasi sesuai ketentuan dan menjalankan fungsi pers.
Hubungan yang sehat antara media dan masyarakat bukan dibangun melalui rasa takut, melainkan melalui kepercayaan.
Bagaimana dengan Hubungan Wartawan dan Aparat?
Dalam menjalankan tugas jurnalistik, wartawan tentu akan berhubungan dengan banyak pihak, termasuk aparat penegak hukum, pemerintah, pelaku usaha, tokoh masyarakat, maupun organisasi lainnya.
Hubungan komunikasi dan profesionalitas dalam mencari informasi merupakan hal yang wajar.
Namun, independensi media tetap harus dijaga.
Wartawan harus mampu membedakan antara hubungan profesional untuk mendapatkan informasi dengan kepentingan lain di luar tugas jurnalistik.
Demikian pula masyarakat sebaiknya tidak mudah menuduh adanya keberpihakan tanpa bukti yang jelas.
Kritik boleh, dugaan boleh disampaikan, tetapi tuduhan tetap membutuhkan dasar dan bukti.
Media Online Jangan Hanya Mengejar Viral
Di era digital, berita dapat menyebar hanya dalam hitungan menit.
Judul yang menarik dapat mendatangkan pembaca dalam jumlah besar. Tetapi media tidak boleh lupa bahwa mengejar perhatian publik harus tetap berjalan bersama akurasi.
Media yang baik bukan hanya media yang paling cepat memberitakan.
Media yang baik adalah media yang paling bertanggung jawab terhadap apa yang diberitakannya.
Karena sekali kepercayaan masyarakat hilang, membangunnya kembali tidak mudah.
Saatnya Mengembalikan Marwah Jurnalistik
Profesi wartawan tidak membutuhkan perlakuan istimewa.
Yang dibutuhkan adalah kepercayaan.
Kepercayaan itu dibangun melalui kerja nyata: turun ke lapangan, melakukan verifikasi, menghadirkan narasumber secara berimbang, menghormati hak jawab, tidak memelintir informasi, serta berani menyampaikan fakta berdasarkan kepentingan publik.
KTA boleh menjadi tanda pengenal.
Nama media boleh tercantum dalam kartu.
Tetapi integritas tidak pernah bisa dicetak di atas kartu.
Integritas terlihat dari cara seorang wartawan bekerja.
Karena itu, sudah waktunya seluruh insan pers bersama-sama menjaga nama baik profesi. Jangan sampai ulah segelintir orang membuat wartawan profesional ikut dicurigai.
Masyarakat membutuhkan pers.
Pers membutuhkan kepercayaan masyarakat.
Dan kepercayaan tersebut hanya dapat dipertahankan apabila wartawan, media, dan seluruh ekosistem jurnalistik terus menunjukkan dedikasi, profesionalisme, independensi, serta kerja nyata untuk kepentingan publik.
Jangan jadikan KTA sebagai ukuran keberanian. Jadikan integritas sebagai ukuran kehormatan.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak akan mengingat berapa banyak kartu pers yang pernah dimiliki seorang wartawan.
Masyarakat akan mengingat karya apa yang pernah diberikan, fakta apa yang pernah diperjuangkan, dan seberapa besar manfaat yang diberikan melalui kerja jurnalistiknya.
(Reina)
