Itime.id .BOJONEGORO – 14 September 2026 Di tengah derasnya perkembangan budaya modern, masih ada generasi muda yang memilih untuk mencintai dan melestarikan kesenian tradisional. Salah satunya adalah Ki Ngesti Adi Anggoro, dalang muda asal Desa Punggur, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro.
Pria yang akrab disapa Angga tersebut tidak hanya menekuni seni pedalangan, tetapi juga aktif mengembangkan kesenian tradisional di lingkungan tempat tinggalnya.
Melalui Sanggar Seni Sekar Jati yang didirikannya, Angga turut melatih anak-anak dan remaja dalam seni gamelan. Upaya tersebut menjadi bagian dari kepeduliannya agar kesenian tradisional tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda.
Desa Punggur sendiri dikenal sebagai salah satu desa yang memiliki banyak seniman, khususnya dalam bidang pedalangan dan gamelan. Lingkungan seni tersebut turut membentuk kecintaan Angga terhadap dunia pewayangan sejak usia dini.
Menariknya, kecintaan Angga terhadap wayang sudah tumbuh sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, Angga kecil bahkan rela menyisihkan uang sakunya untuk membeli kardus yang kemudian dibuat menjadi wayang sederhana.
Wayang dari kardus tersebut dimainkan sendiri sebagai bentuk kegemarannya terhadap dunia pewayangan. Dari kebiasaan sederhana itulah, kecintaannya terhadap seni tradisional terus tumbuh hingga akhirnya mengantarkannya menjadi seorang dalang.
Seiring berjalannya waktu, ketertarikan Angga terhadap seni tradisi semakin berkembang. Ia kemudian memiliki seperangkat gamelan yang tidak hanya digunakan untuk berlatih secara pribadi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana belajar bagi anak-anak dan remaja di desanya.
Bagi Angga, melestarikan seni tradisional bukan sekadar mempertahankan warisan budaya, tetapi juga memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal akar budaya daerahnya.
Melalui Sanggar Seni Sekar Jati, anak-anak dan remaja diajak mengenal gamelan serta berbagai kesenian tradisional sejak usia dini. Harapannya, akan lahir generasi penerus yang tidak hanya mengenal budaya modern, tetapi juga bangga terhadap kesenian warisan leluhur.
Kisah Angga menjadi bukti bahwa di tengah perubahan zaman, kecintaan terhadap budaya tradisional masih dapat tumbuh dari generasi muda. Dari sebuah wayang sederhana berbahan kardus hingga menjadi seorang dalang dan penggerak seni di desanya, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya dapat dimulai dari hal kecil.
Generasi boleh berganti, zaman boleh berubah, tetapi seni dan budaya jangan sampai kehilangan penerusnya.
(Reina)
