ITiime.id .Jawa Tengah – 1oktober 2026 .Di tengah semakin beragamnya pilihan pangan modern, sejumlah bahan pangan lokal justru mulai kembali mendapat perhatian. Salah satunya adalah umbi kimpul, tanaman yang sejak lama dikenal masyarakat pedesaan dan dapat diolah menjadi berbagai makanan.
Kimpul sekilas memiliki kemiripan dengan talas. Tanaman ini dapat tumbuh di lingkungan yang cukup lembap dan dalam pemanfaatannya, bagian umbinya menjadi salah satu bahan pangan yang bisa diolah masyarakat.
Dahulu, kimpul lebih banyak dikonsumsi sebagai pangan rumahan. Umbi ini biasanya direbus atau dikukus sebelum disantap. Seiring berkembangnya kreativitas masyarakat, kimpul juga dapat diolah menjadi makanan ringan dan produk pangan lainnya.
Dari pangan sederhana menjadi peluang usaha
Potensi kimpul tidak hanya berada pada sisi pangan. Jika dikembangkan dengan baik, umbi lokal tersebut dapat menjadi bahan baku usaha rumahan maupun UMKM.
Kimpul dapat diolah menjadi keripik, tepung, kue, hingga aneka camilan. Pengolahan tersebut membuat produk memiliki nilai tambah dibandingkan ketika hanya dijual dalam bentuk umbi segar.
Peluang tersebut menjadi semakin menarik karena tren penggunaan bahan pangan lokal terus berkembang. Masyarakat mulai mencari produk yang tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga memiliki cerita mengenai bahan dan daerah asalnya.
Bagi petani, pengembangan komoditas seperti kimpul juga dapat menjadi alternatif pemanfaatan lahan, terutama apabila terdapat permintaan pasar yang konsisten.
Perlu inovasi dan pengolahan yang tepat
Meski memiliki potensi, kimpul tetap membutuhkan pengolahan yang benar sebelum dikonsumsi. Umbi perlu dimasak dengan baik karena kimpul mentah dapat menimbulkan rasa gatal akibat kandungan senyawa tertentu.
Karena itu, edukasi mengenai cara pengolahan menjadi bagian penting apabila kimpul ingin dikembangkan sebagai produk pangan yang lebih luas.
Selain pengolahan, kemasan dan pemasaran juga menjadi tantangan. Produk kimpul akan lebih mudah diterima pasar apabila dikemas secara menarik, memiliki standar kebersihan yang baik, serta dipasarkan melalui kanal yang sesuai dengan konsumen masa kini.
Melestarikan pangan lokal
Kimpul menunjukkan bahwa pangan lokal yang selama ini dianggap sederhana sebenarnya memiliki peluang untuk dikembangkan.
Dengan inovasi dan dukungan masyarakat, petani, pelaku UMKM, serta berbagai pihak terkait, kimpul tidak harus berhenti sebagai pangan tradisional. Umbi tersebut dapat menjadi bagian dari diversifikasi pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Di tengah derasnya produk pangan modern, mengenalkan kembali kimpul juga menjadi salah satu cara menjaga agar kekayaan pangan lokal Indonesia tetap dikenal dan tidak hilang ditelan zaman.
(Reina)
