ITime.id – Jakarta 6 Oktober 2026 .Dampak fenomena El Niño yang berlangsung panjang mulai terasa di berbagai sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Selain meningkatkan risiko kekeringan dan keterbatasan air bersih di sejumlah wilayah, kondisi kemarau yang lebih kering juga memberikan tekanan terhadap produksi pangan, termasuk beras.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada September 2026 menyampaikan bahwa El Niño dengan intensitas sangat kuat sedang terjadi. Kondisi tersebut, ditambah pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD), berpotensi mengurangi curah hujan dan membuat musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia.
BMKG memperkirakan sebanyak 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami awal musim hujan yang mundur dari rata-rata klimatologisnya. Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian wilayah masih menghadapi periode kering yang cukup panjang.
Dampak kekeringan juga berpengaruh terhadap sektor pertanian. Berkurangnya ketersediaan air dapat menghambat kegiatan tanam, terutama di wilayah yang bergantung pada curah hujan atau memiliki keterbatasan jaringan irigasi.
Pemerintah sebelumnya telah mengantisipasi kondisi tersebut. Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyebut kemarau yang lebih panjang dan kering pada 2026 menyebabkan kegiatan tanam dan produksi di sejumlah sentra pangan mengalami penurunan. Kondisi itu kemudian bertepatan dengan periode paceklik sehingga pasokan beras ke pasar menjadi lebih terbatas.
Data Badan Pusat Statistik yang dikutip pemerintah menunjukkan harga beras medium pada Januari hingga September 2026 meningkat dari sekitar Rp13.857 per kilogram menjadi Rp14.060 per kilogram. Sementara harga beras premium naik dari sekitar Rp15.505 menjadi Rp15.794 per kilogram dalam periode yang sama.
Tekanan harga juga tercermin pada data harga beras tingkat perdagangan besar. BPS mencatat rata-rata harga beras grosir nasional meningkat secara bertahap dari Rp14.218 per kilogram pada Januari 2026 menjadi Rp14.901 per kilogram pada Agustus 2026.
Krisis Air Bersih Masih Menjadi Perhatian
Persoalan tidak berhenti pada harga pangan. Kekeringan berkepanjangan juga berpotensi mengganggu ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Kemenko PMK sejak pertengahan 2026 telah memasukkan risiko krisis air bersih, gangguan ketahanan pangan, kesehatan masyarakat dan dampak sosial ekonomi sebagai bagian dari ancaman yang perlu diantisipasi akibat El Niño.
Sementara itu, BMKG mencatat pada September 2026 sebanyak 556 Zona Musim atau sekitar 61,91 persen wilayah daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau. Bahkan terdapat sejumlah wilayah yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari.
Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi semakin penting, khususnya bagi masyarakat di daerah yang sumber airnya mulai mengering. Pemerintah daerah bersama lembaga terkait perlu memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama periode kekeringan.
Ketahanan Pangan dan Air Perlu Dijaga Bersama
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi tekanan pasokan pangan. Salah satunya melalui penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah.
Di sisi lain, Kementerian Pekerjaan Umum juga memperkuat kesiapsiagaan sumber daya air menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan dapat berlangsung hingga awal 2027. Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui pengaturan tampungan air, jaringan irigasi dan pemetaan wilayah rawan kekeringan.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa perubahan pola cuaca tidak hanya berkaitan dengan persoalan pertanian, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Ketersediaan beras dan air bersih merupakan dua hal yang harus mendapatkan perhatian serius secara bersamaan.
Masyarakat pun diimbau menggunakan air secara bijak, tidak melakukan pemborosan, serta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan cuaca dan kondisi kekeringan dari pemerintah maupun BMKG.
Dengan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, pelaku usaha pangan dan masyarakat, tekanan akibat kemarau panjang diharapkan dapat diminimalkan sehingga kebutuhan pangan dan air bersih tetap terjaga.
ITime.id – Informasi, Edukasi dan Kepedulian untuk Masyarakat.
(Reina)
