ITIME.id .10 Oktober 2026 — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kadang kita lupa menjaga batas diri. Ada hal-hal yang terlihat sepele di awal, namun perlahan menarik seseorang ke dalam jurang yang semakin dalam — mulai dari pelanggaran kecil, kebiasaan buruk, hingga akhirnya kehilangan arah, kehilangan harga diri, dan melupakan tanggung jawab terbesar kepada keluarga.
Pelakor dan Mereka yang Memanfaatkan Kesempatan
Istilah pelakor sering kita dengar. Namun di balik istilah itu, ada kenyataan pahit: seseorang yang dengan sengaja masuk ke dalam keutuhan rumah tangga orang lain, mengabaikan perasaan istri/suami yang sah, serta anak-anak yang menjadi korban tak berdosa.
Yang lebih menyedihkan: sering kali ada orang-orang di sekitar yang mengiyakan, mendukung, bahkan melindungi tindakan tersebut. Kawan yang seharusnya menasihati, justru ikut memperlancar jalan ke salah. Padahal:
“Mendukung kejahatan sama berat dengan melakukan kejahatan itu sendiri. Diam saja saat melihat kesalahan, perlahan membuat kita ikut terhanyut di dalamnya.”
Pergaulan Bebas di Lingkungan Kerja: Awalnya Terlihat Menarik
Banyak kisah bermula dari lingkungan pergaulan yang terlihat biasa saja — di tempat kerja, di lapangan, di pertemuan. Lalu muncul godaan:
- “Di sini mudah dapat uang, hasilnya lumayan besar”
- Nikmatnya kesenangan sesaat yang terlihat menggiurkan
- Kawan-kawan yang membenarkan segala hal
Perlahan nilai-nilai kehidupan mulai bergeser:
Kejujuran dianggap tidak penting lagi
Niat baik digantikan oleh keuntungan sesaat
Harga diri dipertukarkan dengan kemudahan uang
Rasa malu perlahan hilang — yang seharusnya malu, malah merasa benar
Semakin dekat pada kemaksiatan — merokok, alkohol, dan kebiasaan buruk lainnya menjadi hal lumrah
Hidup tanpa ikatan sah / kumpul kebo dianggap biasa, padahal melanggar norma dan agama
Tugas dan tanggung jawab pada keluarga yang sah diabaikan — waktu, perhatian, dan nafsu dialihkan ke hal yang salah
Ketika yang Salah Semakin Di Atas Angin
Sering kita melihat kenyataan yang terasa tidak adil:
- Pihak yang merusak keutuhan keluarga justru dibela, dilindungi, dimanja
- Pihak yang menjaga kebenaran justru ditinggalkan, disalahpahami, diabaikan
- Kebohongan yang besar — “kebohongan jerapah” — diulang terus-menerus hingga seolah menjadi kebenaran
- Jati diri dan harga diri tak lagi dihiraukan, asalkan keinginan sesaat terpenuhi
“Jangan iri pada keberhasilan yang dibangun di atas keburukan orang lain. Kemegahan itu tidak akan bertahan lama. Apa yang diperoleh dengan cara yang salah, pada akhirnya akan lenyap dengan cara yang sama.”
Satu Frekuensi, Semakin Terjebak
Ada pepatah mengatakan: “Kawan yang baik mengingatkan, kawan yang buruk membenarkan.”
Ketika seseorang berada dalam lingkungan yang membenarkan kesalahan:
- Semakin lama, semakin sulit untuk kembali
- Semakin banyak orang yang ikut terlibat dalam kezaliman
- Kebenaran semakin tertutup, hingga akhirnya sulit membedakan mana yang benar dan salah
Kita adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering kita temui. Jika lingkungan sekitar membenarkan perselingkuhan, kebohongan, dan pergaulan bebas, perlahan kita pun akan menganggap hal itu wajar — padahal itu adalah jalan yang menyesatkan.
Kembali ke Jalan yang Benar
Tidak ada kata terlambat untuk berhenti dan berbalik arah:
Tegur diri sebelum ditegur oleh keadaan — malu itu tanda kita masih punya hati nurani
Jauhi lingkungan yang membenarkan kesalahan — meskipun itu teman lama
Pulanglah kepada keluarga — mereka yang sah adalah orang-orang yang akan menerima kita apa adanya
Bangun kembali harga diri — kejujuran memang berat, tapi itulah satu-satunya jalan yang terang
Ingat: apa yang ditanam, itu yang dipanen — kebaikan membuahkan kedamaian, keburukan membuahkan penyesalan
“Hidup bukan tentang siapa yang paling di atas angin hari ini, tetapi siapa yang bisa tidur tenang di malam hari dengan hati yang jujur.”
NilaiKehidupan #SetiaPadaKeluarga #JagaHatiNurani #HindariPerselingkuhan #Kebohongan #iTime.id
(Reina)
