I Time.id . 28 November 2025 .Kalimantan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan hutan tropis terbesar di Indonesia. Di balik lebatnya pepohonan, hidup beberapa komunitas adat yang jarang tersentuh modernisasi. Suku-suku pedalaman ini mempertahankan tradisi leluhur, menjunjung tinggi harmoni dengan alam, dan hidup dengan cara yang bagi masyarakat luar dianggap unik sekaligus menakjubkan.

Bagi suku pedalaman Kalimantan seperti Dayak Punan, Dayak Bukit, dan beberapa kelompok Dayak Lundayeh, hutan bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga bagian dari identitas.
Mereka menganggap hutan sebagai “ibu kehidupan” yang menyediakan makanan, obat-obatan, bahan bangunan, hingga perlindungan spiritual.
Sistem berburu tradisional, memancing, serta mengumpulkan rotan dan damar masih dijalankan turun-temurun. Mereka juga menerapkan aturan adat dalam mengambil hasil hutan agar keberlanjutan tetap terjaga, seperti larangan menebang pohon tertentu atau membatasi musim berburu.
Banyak dari kelompok yang masih hidup nomaden atau semi-nomaden. Mereka membangun rumah pondok sementara dari daun dan kayu ringan untuk memudahkan perpindahan.
Sementara kelompok lain yang lebih menetap tinggal di rumah panjang (betang)—sebuah bangunan besar yang menampung puluhan keluarga, simbol persatuan dan gotong royong masyarakat Dayak.
Kehidupan sosial dijalankan berdasarkan nilai kebersamaan. Keputusan penting diambil lewat musyawarah adat bersama tetua suku. Nilai kehormatan, kejujuran, dan penghormatan terhadap leluhur sangat dijunjung tinggi.
Meski sebagian telah mengenal agama modern, banyak suku pedalaman masih mempraktikkan kepercayaan animisme dan dinamisme, meyakini bahwa setiap unsur alam memiliki roh.
Upacara adat dilakukan sebagai ungkapan syukur atau permintaan perlindungan—mulai dari ritual panen, penyembuhan, hingga upacara roh leluhur.
Setiap kelompok Dayak memiliki bahasa dan dialek sendiri. Namun beberapa bahasa suku pedalaman kini hanya dikuasai oleh generasi tua. Minimnya akses pendidikan dan perubahan pola hidup membuat ancaman kepunahan bahasa lokal semakin nyata.
Berbagai peneliti dan lembaga adat kini mulai mendokumentasikan bahasa-bahasa tersebut sebagai upaya pelestarian.
Meski hidup harmonis dengan alam, suku pedalaman menghadapi tantangan besar:
- Pembukaan lahan dan deforestasi
- Masuknya budaya luar yang mengubah pola hidup tradisional
- Keterbatasan akses kesehatan dan pendidikan
- Hilangnya ruang hidup akibat pembangunan infrastruktur dan industri ekstraktif
Beberapa komunitas harus berpindah lebih dalam ke hutan demi mempertahankan tradisi mereka.
Pemerintah daerah, LSM, dan komunitas adat kini mulai memperkuat perlindungan terhadap masyarakat adat, termasuk pengakuan wilayah adat, pemberdayaan ekonomi berbasis hutan, serta program pendidikan budaya bagi generasi muda suku Dayak.
Upaya ini penting agar kekayaan budaya Kalimantan tidak hilang ditelan modernisasi.
Reina

